Brawijaya Forum
Forum Main Menu
Current Forum Spec.

 
Serba Serbi
Forum ini untuk menampung diskusi di luar topik yang ada
 
Akses: Public
Moderator forum: webmaster, UPPTI UB, Helpdesk UPPTI
Wahabi dicela, Wahabi dibela... - Brawijaya Forum - (536)
Brawijaya Forum / Serba Serbi / Wahabi dicela, Wahabi dibela...
<< 1 ... 531 . 532 . 533 . 534 . 535 . 536 . 537 . 538 . 539 . 540 . 541 ... 706 . 707 . >>
Pencetus Tulisan
Koteka(asli)
# Postingan: 14 Jan 2010 15:05
Balasan 


perda kota Injil tidaklah diperlukan. Pdt Jefrey, seorang pendeta dan dosen di sekolah Alkitab Manokwari mengungkapkan, yang diperlukan adalah kebebasan untuk memberitakan Injil, bukan aturan yang menghambat kebebasan agama-agama lain. Ia juga berpendapat, pelajaran dari sejarah gereja, diamana gerja-geraja menjadi kelompok mayoritas dan kemudian memakai tangan negara untuk memaksakan ajarannya terbukti membawa gereja pada dunia yang gelap, seperti abad pertengahan, karena itu formalisasi agama tidak diperlukan, menghadirkan diri sebagi orang beragama yang hidup benar lebih penting dari pada memaksakan ajaran agama, bahkan diakui, ada ketakutan jika memang usulan itu dijadikan perda itu akan mendapat perlawanan dari pihak-pihak yang berkeberatan, dan juga bahaya eksklusifisme.

VIII. Penutup.

Usaha untuk menghadirkan perda pembinaan mental dan spiritual yang kemudian dikenal menjadi perda kota injil memang diakui sebagai usaha agama memberikan kontribusinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran publik agama itu dipegang kuat sebagai sesuatu yang adalah hak masyarakat Papua, apalagi disana mereka mengatakan tak ada usaha pembelengguan kebebasan beragama. Hukum yang akan dihadirkan adalah hukum yang membuat semua agama-agama dapat hidup berdampingan dengan harmonis. Namun, karena usulan itu belum didialogkan dalam komunitas yang lebih luas dalam komunitas agama-agama, wajar saja ada efek samping dari keterbatasan pengetahuan agama-agama itu. Kesediaan tokoh-tokoh agama sebagai penggagas menunjukkan adanya keinginan untuk memberikan kontribusi bagi terciptanya kehidupan masyarakat di Manokwari yang damai.

Peran publik agama yang coba ditawarkan agama kemudian juga mengalami bias dengan kondisi ekonomi masyarakat Papua yang kebanyakan hidup dalam kondisi miskin, apalagi ketika diperhadapkan dengan pendatang yang jauh lebih kaya, dalam hal ini umat Muslim, hal itu terlihat dengan penekanan pada nilai-nilai Kristen yang adalah isi perda kota Injil yang kemudian ingin dipaksakan. Berangkat dari hak untuk memberikan kontribusinya, komunitas agama kemudian ingin memaksakan kebenaran pandangannya pada komunitas lain, dan itu terjadi karena adanya perasaan terancam dari masyarakat Kristen Papua.

Demi untuk memuluskan jalan bagi diberlakukannya perda kota Injil, GKI dalam hal ini sebagai pihak penggagas baik perihal sebutan Manokwari sebagai kota Injil maupun kehadiran perda kota injil, berusaha menggandeng Gereja-gereja lain yang sebenarnya juga ada yang memiliki pandangan yang bersebrangan. Polarisasi agama dalam agama, dalam hal ini Kristen bertujuan untuk mencapai tujuan penetapan raperda kota Injil.

Peran publik agama yang coba diusahakan ternyata telah menjadi bias, karena disana tersimpan semangat hegemoni agama, hal itu semakin diperparah dengan adanya kebangkitan mereka yang menolak untuk didiskriminasikan, dalam hal ini komunitas Mulim yang kemudian juga menyatu, yaitu antara muslim Papua dan muslim pendatang. Polarisasi agama pu terjadi tidak hanya di kalangan Kristen yang mencoba inginmenggolkan apa yang mereka anggap baik, namun itu juga terjadi di kalangan muslim yang merasa terdiskriminasikan.

Polarisasi agama itu mungkin saja tidak disadari, namun itu tetap saja membahayakan. Pada kondisi ini pendekatan yang hati-hati dengan menghadirkan dialog antara mereka yng berbeda pendapat tersebut merupakan kebutuhan penting, itu juga disadari oleh kalangan Kristen sebagai penggagas. Persoalannya sekarang, apakah pemerintah daerah dan pusat cukup bijak dalam memfasilitasi usaha dialog yang terbuka dan adil untuk kemudian mengambil suatu consensus bersama.

Binsar A Hutabarat, S.Th., M.C.S.


http://www.in-christ.net/blog/teologi/perda_manokw ari_kota_injil

Akal sehat
# Postingan: 14 Jan 2010 19:41
Balasan 


Saya tidak habis pikir melihat kepanikan masyarakat Kristen di Manokwari yang tidak beralasan...melihat data perkembangan umat muslim mencapai 40% artinya pembangunan sebuah Islamic Centre bukanlah tanpa alasan atau dasar yang kuat..coba bandingkan dengan pembangunan gereja di pulau jawa di daerah yang penganut Kristennya minim sekali memaksakan berdirinya gereja kadangkala dengan menghalalkan segala cara, dengan memberikan hadiah bagi yang mau menandatangani pendirian gereja tanpa menerangkan terlebih dahulu secara jujur isi pernyataan yang akan ditandatangani dikarenakan yang menandatangani mayoritas masyarakat buta huruf dan ketika gereja berdiri yang memakai gereja tersebut bukan orang kristen di sekitar gereja dikarenakan memang jumlahnya hanya satu dua orang akan tetapi dari luar wilayah gereja yang dibangun..terlihat sekali pemaksaan pembangunan gereja tersebut..dan kebetulan di daerah dekat rumah orang tua saya yang lama mengalami ini, begitu mereka tau yang ditandatangani adalah pendirian gereja, semua ingin mengembalikan hadiah yang diterima akan tetapi ditolak, padahal sebenarnya jika ada keadilan dalam negara ini, tidak ada mafia peradilan jelas2 perjanjian tersebut cacat hukum dengan saksi demikian banyak, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan....Akhirnya gereja tetap berdiri dengan jama'ah diimpor dari luar wilayah gereja yang bersangkutan....Bukannya saya membela orang2 yang menempuh keadilan di luar hukum akan tetapi hal ini merupakan suatu fenomena di dalam masyarakat kita, kalau toh ada perusakan atau pembakaran belum tentu diakibatkan oleh sebab yang tidak jelas, seperti yang saya bilang tadi pihak2 yang merasa tertipu akan tetapi tidak berdaya memproses kasus tersebut ke pengadilan dikarenakan berbagai hal menyebabkan ada pihak2 yang melakukan anarkis..Inilah kelemahannya negara yang tidak didasarkan dan tidak menegakkan keadilan mudah sekali memancing kekeruhan, perselisihan dan anarkis diakibatkan banyaknya ketidakadilan yang tidak bisa diselesaikan melalui proses hukum yang adil.....

didi
# Postingan: 15 Jan 2010 06:44
Balasan 


DOA YANG DIUCAPKAN PADA SAAT HENDAK SHOLAT

Kami meriwayatkan dalam kitab Ibn as-Sunni dari Ummi Rafi' i bahwa dia berkata,

يَا رَسُو'لَ اللهِ دُل'َنِي' عَلَى عَ...َلٍ يَأ'جُرُنِي اللهُ عَز'َ وَجَل'َ عَلَي'هِ؟ قَالَ: يَا أُ...'َ رَافِعٍ! إِذَا قُ...'تِ إِلَى الص'َلاَةِ؛ فَسَب'ِحِي اللهَ تَعَالَى عَش'رًا، وَهَل'ِلِي'هِ عَش'رًا، وَاح'...َدِي'هِ عَش'رًا، وَكَب'ِرِي'هِ عَش'رًا، وَاس'تَغ'فِرِي'هِ عَش'رًا، فَإِن'َكِ إِذَا شَب'َح'تِ؛ قَالَ: هذَا لِي، وَإِذَا هَل'َل'تِ؛ قَالَ: هذَا لِي، وَإِذَا حَ...ِد'تِ؛ قَالَ: هذَا لِي'، وَإِذَا كَب'َر'تِ؛ قَالَ: هذَا لِي، وَإِذَا اس'تَغ'فَر'تِ، قَالَ: قَد' فَعَل'تُ.
"Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal di mana Allah memberiku pahala karenanya?" Nabi menjawab, "Wahai Ummi Rafi', apabila kamu berdiri shalat maka bertasbihlah sepuluh kali, bertahlillah sepuluh kali, bertahmidlah sepuluh kali, bertakbirlah sepuluh kali dan beristighfarlah sepuluh kali. Karena jika kamu bertasbih, maka Allah berfirman, 'Ini untukKu.' Jika kamu bertahlil maka Allah berfirman, 'Ini untukKu.' Jika kamu bertahmid maka Allah ber-firman, 'Ini untukKu.' Jika kamu bertakbir maka Allah berfirman, 'Ini untukKu.' Dan jika kamu beristighfar maka Allah berfirman, 'Aku telah melakukan'."

Keterangan :
Begitulah yang dikatakan penulis (Imam Nawawi). Adapun Ibn as-Sunni maka dia memberi judul bab untuk hadits di atas dengan, "Apa yang diucapkan apabila berdiri shalat." Dan ini lebih dekat. Yang benar adalah bahwa matan hadits ini tidak mendukung bab yang ditulis oleh an-Nawawi dan tidak pula yang ditulis oleh Ibn as-Sunni, akan tetapi ia berbicara -seperti yang akan nampak bagi anda dari takhrij - bahwa tempat doa ini adalah iftitah (pembuka) shalat sama dengan doa-doa iftitah yang lain.

Takhrij hadits :
Hasan:. Ia diriwayat-kan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir 24/302 no. 766 dari jalan Bukair bin Mismar, Zaid bin Aslam mengabarkan kepadaku dari Salma Ummu Bani Abi Rafi', lalu dia menyebutkannya dengan dzikir yang mutlak tanpa mengait-kan dengan shalat dan selainnya. Bukair ini adalah rawi jujur, haditsnya tidak mengapa, dia dijadikan hujjah oleh Muslim dalam syawahid. Jalan ath-Thabrani berbeda dengan jalan Ibn as-Sunni no. 107 di mana dia meriwayatkannya dari jalan Athaf bin Khalid, Zaid bin Aslam menyampaikan kepadaku dari Ummu Rafi', maka dia menyebutkannya dengan pembatasan dengan sabda Nabi, "Apabila kamu berdiri shalat." Athaf ini adalah rawi jujur, terkadang melakukan kekeliruan, haditsnya tidak mengapa. Jalan ath-Thabrani dan Ibn as-Sunni ini berbeda dengan jalan Ibnu Mandah di mana dia meriwayatkannya dalam al-Ma'rifah 4/333 - Ishabah, 2/144-Futuhat, dari jalan Hisyam bin Saad, dari Zaid bin Aslam, dari Ubaidullah bin Wahab, dari Ummu Rafi' bahwa dia berkata, ياَرَسُو'لَ اللهِ أَخ'بِر'نِي' عَن' شَي'ءٍ أَف'تَتِحُ بِهِ صَلاَتِي'... "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku sesuatu yang dengannya aku membuka shalatku... lalu dia menyebutkannya. Hisyam ini adalah rawi jujur mempunyai kekeliruan-kekeliruan, haditsnya tidak mengapa, Muslim berhujjah dengan-nya dalam syahid.
Al-Asqalani berkata, "Pertimbangan kajian menuntut dikuatkannya riwayat Hisyam karena riwayatnya mengandung keakuratan pemaparan pada sanad dan matan sekaligus." Aku berkata, "Ditambah kemudahan menggabungkan kedua riwayat yang lain kepadanya, karena dia menyebutkan dalam al-Ishabah bahwa al-Laits meriwayatkannya seperti riwayat Hisyam jika ini adalah yang mahfuzh dan bukan kekeliruan sebagaimana hati cenderung kepadanya, maka ia menguatkan riwayat ini. Dalam kondisi apa pun sanadnya tetap dhaif karena Zaid bin Aslam banyak meriwayatkan secara mursal dan terkenal dengan tadlisnya dan mereka tidak menyebutkan bahwa ia memiliki riwayat dari Ummu Rafi' ditambah dia meriwayatkan dengan lafazh 'dari', jadi menurut dua riwayat yang pertama sanadnya adalah terpu-tus, dan hal itu diungkapkan dengan jelas oleh riwayat ketiga yang rajih yang menyebutkan perantara antara Zaid dan Ummu Rafi', yaitu Ubaidullah bin Wahab. Akan tetapi aku tidak menemukan biografinya kecuali jika terjadi kesa-lahan di mana yang seharusnya adalah Abdullah bin Wahab. Jika demikian maka haditsnya kembali dhaif. Benar hadits ini memiliki syahid yaitu hadits Aisyah yang shahih di Ahmad 6/143, Ibnu Majah no. 1356, Abu Dawud no. 766 dan lain-lain, dengan syahidnya ini ia menjadi hasan, ia dihasankan oleh al-Asqalani.

didi
# Postingan: 15 Jan 2010 06:56
Balasan 


EMPAT ISTERI

ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri. Dia mencintai isteri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik di antara semua isterinya.
Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3. ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu kuatir kalau isterinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan isteri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia isteri yang sabar dan penuh pengertian.

Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2-nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.
Sama halnya dengan isteri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.
Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski isteri pertama ini begitu sayang kepadanya. Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, "Saat ini aku punya 4 isteri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan."

ISTERI KE-4: NO WAY
Lalu pedagang itu memanggil semua isterinya dan bertanya pada isteri ke-4-nya. "Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?" Ia terdiam.... tentu saja tidak! Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa2 lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan2 ada pisau terhunus dan mengiris- iris hatinya.

ISTERI KE-3: MENIKAH LAGI
Pedagang itu sedih lalu bertanya pada isteri ke-3. "Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?" Isterinya menjawab, "hidup begitu indah di sini, Aku akan menikah lagi jika kau mati". Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tsb. Badannya terasa demam.

ISTERI KE-2: SAMPAI LIANG KUBUR
Kemudian ia memanggil isteri ke-2. "Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku?" Jawab sang isteri, "Maafkan aku kali ini aku tak bisa menolongmu. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur. Nantiakan kubuatkan makam yang indah untukmu."

ISTERI KE-1: SETIA BERSAMA SUAMI
Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba- tiba terdengar suara, "Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemana pun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya disana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini, isteriku."

HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI
Sesungguhnya, kita punya 4 isteri dalam hidup ini.
Isteri ke-4 adalah TUBUH kita. Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.
Isteri ke-3, STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.
Sedangkan isteri ke-2, yakni KERABAT DAN TEMAN. Seberapa pun dekat hubungankita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.
Dan sesungguhnya isteri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA. Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk berbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita menjadi sangat berarti bagi mereka yang memerlukannya.
Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.

didi
# Postingan: 15 Jan 2010 06:58
Balasan 


Ghuluw di Sekitar Kita

Sebagaimana dengan keburukan lainnya, ghuluw pun akan menyeret hamba pada penyimpangan-penyimpangan berikutnya. Maka sudah semestinya kita mendeteksi secara dini penyakit bernama ghuluw ini.

Sikap ghuluw di dalam ibadah adalah keburukan. Tidak ada sedikitpun kebaikan di dalamnya. Sebagaimana halnya kebaikan, satu bentuk kebaikan akan melahirkan segenap kebaikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ال'خَي'رُ لاَ يَأ'تِي إِلا'َ بِال'خَي'رِ
“Kebaikan itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan juga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Demikian pula keburukan, satu keburukan akan mendorong seseorang terjatuh dalam rangkaian keburukan berikutnya. Satu bentuk ghuluw yang dilakukan seseorang tentu akan membawa dirinya untuk melakukan ghuluw yang lain. Sehingga, benarlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memperingatkan umat dari bahaya ghuluw ini.

Sekadar Contoh Ghuluw
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan bahwa ghuluw banyak sekali macamnya. Di antaranya ghuluw di dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, dan ada juga ghuluw di dalam adat kebiasaan.
Ghuluw di dalam aqidah, contohnya adalah orang yang terpengaruh oleh Ahlul Kalam di dalam menetapkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Ahlul Kalam bersikap terlalu berlebihan yang pada akhirnya berujung pada kehancuran. Perbuatan mereka menyebabkan terjatuhnya seorang hamba kepada salah satu dari dua kesesatan. Yaitu tamtsil (menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk atau sebaliknya) dan ta’thil (mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala). (Al-Qaulul Mufid, 1/394)
Ghuluw di dalam masalah sifat-sifat Allah pertama kali terjadi pada diri Al-Ja’d bin Dirham. Kepalanya dipenggal oleh penguasa ‘Iraq ketika itu, Khalid bin Abdul ‘Aziiz Al-Qasri, karena Al-Ja’d berkeyakinan kalamullah (Al-Qur’an) adalah makhluk. Pemikiran Al-Ja’d ini diteruskan oleh Al-Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi. Melalui Al-Jahm inilah, pemikiran ghuluw di dalam memahami sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebar. Walaupun pada akhirnya, Al-Jahm pun dibunuh oleh penguasa Khurasan, Salm bin Ahwaz. (Haqiqat Al-Ghuluw, ’Ali bin ‘Abdil ‘Aziz, hal. 47)
Tentang ghuluw di dalam memahami sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu juga memberikan contoh dengan seorang pelajar yang mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak semestinya ditanyakan. Pertanyaan itu terkait dengan ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan oleh salaf. Sebagai contoh, hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:
إِن'َ قُلُوبَ بَنِي آدَ...َ كُل'َهَا بَي'نَ إِص'بِعَي'نِ ...ِن' أَصَابِعِ الر'َح'...َنِ كَقَل'بٍ وَاحِدٍ يَص'رِفُهُ حَي'ثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati anak cucu Adam berada di antara dua jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati saja. Dia membolak-balikkannya sesuai yang Dia kehendaki.”
Sang pelajar yang bersikap ghuluw ini bertanya, “Berapakah jumlah jari-jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Apakah ada ruas-ruasnya? Berapakah jumlah ruasnya?” Hal-hal seperti ini tidak boleh ditanyakan karena termasuk sikap ghuluw. (Syarah Riyadhus Shalihin)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu juga menjelaskan bahwa ghuluw di dalam ibadah artinya terlalu bersikap keras. Dengan memandang adanya sedikit saja kekurangan di dalam ibadah telah divonis sebagai bentuk kekufuran serta keluar dari ajaran Islam. Sebagaimana ghuluw yang dilakukan oleh kelompok Khawarij dan Mu’tazilah. Mereka berpendapat, seseorang yang melakukan satu bentuk dosa besar telah keluar dari Islam. Harta dan darahnya menjadi halal. Mereka membolehkan untuk memberontak kepada pemerintah muslim. Adapun Mu’tazilah berpendapat, seseorang yang terjatuh dalam dosa besar dia berada di antara dua keadaan. Antara kekufuran dan keimanan. Keyakinan ini pun satu bentuk sikap ghuluw yang akan mengantarkan kepada gerbang kehancuran. (Al-Qaulul Mufid, 1/394). Lihat pembahasan secara lengkap tentang masalah ini pada Asy Syari’ah Vol I/No. 08/1425 H/Juli 2004.
Di antara contoh ghuluw di dalam beribadah adalah perbuatan sebagian orang yang berwudhu dalam bilangan yang berlebihan. Dia berwudhu hingga empat, lima, atau enam kali bahkan lebih dari itu, dengan alasan untuk lebih sempurna. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berwudhu tidak lebih dari tiga kali. Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma riwayat Abu Dawud (no. 135), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah menjelaskan tata cara berwudhu:
هَكَذَا ال'وُضُوءُ فَ...َن' زَادَ عَلَى هَذَا فَقَد' أَسَاءَ وَظَلَ...َ
“Demikianlah cara berwudhu, barangsiapa menambah (lebih dari itu) maka dia telah berbuat jelek dan zalim.”
Contoh lain, seseorang yang mandi janabah. Dia memberatkan dirinya sendiri dengan berusaha memasukkan air ke dalam telinga dan lubang hidungnya. Perbuatan ini masuk di dalam larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
هَلَكَ ال'ـ...ُتَنَطِ'عُونَ
“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) [Syarah Riyadhus Shalihin]
Contoh lain tentang ghuluw di dalam ibadah. Orang yang sedang jatuh sakit, pada bulan Ramadhan dia memaksakan diri untuk tetap berpuasa. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan baginya untuk berbuka. Karena dia membutuhkan suplai makanan, minuman, dan obat. (Syarah Riyadhus Shalihin)
Adapun ghuluw di dalam muamalah, dijelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu, yaitu dengan berlebihan di dalam mengharamkan sesuatu walaupun hal tersebut hanyalah sekadar wasilah. Seperti yang dilakukan oleh para pengikut ajaran Shufi (Sufi). Mereka berkeyakinan bahwa orang yang bekerja mencari kehidupan dunia adalah orang yang tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan akhirat. Mereka juga menyatakan, “Tidak boleh engkau membeli sesuatu yang bukan kebutuhan primer.” Keyakinan mereka ini sangat parah, karena mereka telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَلاَ تَقُولُوا لِ...َا تَصِفُ أَل'سِنَتُكُ...ُ ال'كَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَا...ٌ لِتَف'تَرُوا عَلَى اللهِ ال'كَذِبَ إِن'َ ال'َذِينَ يَف'تَرُونَ عَلَى اللهِ ال'كَذِبَ لاَ يُف'لِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa-apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (An-Nahl: 116)
Untuk pembahasan lengkap tentang Sufi silakan merujuk Majalah Asy Syari’ah Vol. I/No. 07/1425 H/2004.
Contoh berikutnya di dalam muamalah, adalah kebiasaan sebagian penuntut ilmu. Dia memaksakan diri untuk membaca dalam keadaan mengantuk. Yang dia dapatkan hanya lelah. Karena seseorang yang membaca dalam keadaan mengantuk tidak akan bisa mengambil manfaat dari bacaaannya. Seharusnya jika dia mulai merasakan kantuk, dia menutup kitab dan tidur untuk beristirahat. Bahkan selepas shalat Ashar atau selepas shalat Shubuh, seandainya dia merasakan kantuk berat hendaknya ia beristirahat. (Syarah Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)
Di antara bentuk ghuluw di dalam mu’amalah sehari-hari adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Abdurrahman bin Hasan rahimahullahu yaitu dengan menahan diri dari hal-hal yang mubah secara mutlak. Seperti orang yang tidak mau makan daging dan roti. Hanya mengenakan pakaian dari bahan-bahan yang kasar atau tidak ingin menikah. Dia meyakini hal-hal seperti ini merupakan bentuk zuhud yang terpuji. Padahal orang semacam ini adalah orang yang jahil dan sesat. (Fathul Majid, 1/396)

Nasihat Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu
Alangkah indahnya wasiat salaf. Wasiat yang akan membimbing kita di dalam meniti jejak generasi terbaik umat ini. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Demi Dzat Yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, menegakkan As-Sunnah itu berada di antara dua kelompok. (Kelompok) yang ghuluw dan (kelompok) yang bersikap meremehkan. Maka bersabarlah kalian di dalam mengamalkan As-Sunnah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati kalian. Sesungguhnya pada waktu yang lalu Ahlus Sunnah adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Maka demikian pula pada waktu yang akan datang, mereka adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak mengikuti kemewahan manusia. Tidak pula mengikuti kebid’ahan manusia. Mereka senantiasa bersabar di dalam mengamalkan As-Sunnah sampai bertemu dengan Rabb mereka. Maka hendaknya kalian pun demikian.” (Syarah Ath-Thahawiyyah, 2/326)

Bagus Hasan
# Postingan: 15 Jan 2010 20:23
Balasan 


Dialah yang dikenal jejak
langkahnya
oleh butiran pasir yang dilaluinya
Rumah Allah Ka'bah pun mengenalinya
dan dataran tanah suci sekelilingnya.

Dialah putera insan termulia
dari hamba Allah seluruhnya
Dialah manusia hidup berhias takwa
kesuciannya ditentukan oleh fitrahnya

Apabila orang Quraishi
melihatnya
berkatalah penyambung... lidah mereka:
Pada keagungan peribadinya
berpuncak semua sifat yang mulia.

Bernasab setinggi bintang kejora
seanggun langit di cakerawala
tak tersaingi insan mana pun juga
baik Arab mahupun 'Ajam6 di jagat raya

Di saat ia menuju ke Ka'bah
bertawaf mencium Hajar jejak datuknya
Ruknul-Hatim7 enggan melepaskan tangannya
kerana mengenali betapa ia tinggi nilainya

Senantiasa menundukkan kepala
Kerana pemalu menjadi dasar fitrahnya
Orang terpaku kerana kewibawaannya
mengajaknya bicara hanya saat senyumnya

Itulah 'Ali buyut Rasul Allah
buyut pemimpin segenap ummat manusia
dengan agamanya manusia berbahagia keridhaan-Nya

Sinar hidayat memancar di antariksa
dari kecermelangan bulan purnama
penaka mentari terbit diufuk sana
membelah cuaca gelap gelita

Darah, daging dan tulang
sumsumnya
berasal dari utusan Allah Yang Maha Esa
sungguh indah semua unsurnya
serba sempurna semua intinya

Jika anda belum mengenal dia
dia itulah putera Fatimah
puteri Nabi utusan Allah
penutup para Rasul dan Anbiya

Sejak azal Allah memuliakan
martabatnya
tiada makhluk setara keagungannya
tersurat dalam ilmu Allah Pencipta
di Lauh Mahfudz dengan qalam-Nya

Pertanyaan anda "siapa dia"
Tidak merugikan keharuman namanya
Arab dan 'Ajam mengenal dia
walau anda hendak mengingkarinya

Uluran tangannya bak8
hujan merata
menyebar manfaat ke mana-mana
tangannya tak pernah kosong dan hampa
walaupun dermawan tiada tara

Lembut perangai dan perilakunya
bila marah tak dikhuwatirkan akibatnya
budi luhur dan kedermawanannya
dua hiasan hidupnya yang terutama

Tiap si miskin datang kepadanya
beban derita dipikul olehnya
Dengan wajah cerah ceria
baginya "ya" jawapan yang termesra

Bila berjanji tak kenal cedera
keberkahan menyertai kebajikannya
riang peramah dan lapang dada
sedetik pun hatinya tak pernah lengah

Tak pernah ia berucap
"tidak"
Kecuali dalam ucapan syahadatnya9
kalau bukan kerana syahadatnya
"tidak"-nya berubah menjadi "ya"

Kebajikan meluas dan merata
seluas bumi dengan segala isinya
hapuslah semua duka derita
sirnalah semua ratap sengsara

Berasal dari keluarga mulia
mencintainya fardhu wajib dalam agama
membencinya kufur dalam agama
dekat padanya selamat dari merbahaya

Kalau dihitung semua orang bertakwa
merekalah barisan pemimpinnya
bila ditanya siapakah penghuni buni utama
tiada lain kecuali "mereka"-lah jawapnya

Kuda sembrani pun tak terdaya
Menjangkau ketinggian martabat mereka
tiada makhluk lain tolok bandingnya
betapa pun tinggi dan mulianya

Laksana hujan menyiram kemarau
mengikis paceklik menangkal bencana
ibarat singa…singa Syara10
terkenal tangkas dan amat perkasa

Kesukaran hidup bukanlah alasan
mereka
untuk menahan uluran tangannya
keadaan mereka senantiasa sama
di saat "kaya" dan di waktu "sengsara"

Betapa berat cubaan dan derita
tersingkirkan oleh cinta kasihnya
dengan cinta kasih dan kebajikannya
nikmat Ilahi melimpah berlipat ganda

Sebutan mereka diucapkan setiap
insan
setelah sebutan Allah Yang Maha Rahman
pada tiap awal wicara
dan pada tiap akhir untaian kata11

Kenistaan pantang menyentuh mereka
tiada kehinaan menjamah kehormatannya
keharumannya semerbak merata
dengan tangan mereka melawan durjana

tak ada manusia hina di mata
mereka
tak seorang pun menjadi budaknya
tidak! Merekalah justeru pemimpinnya
dan yang pertama: Rasul pembawa nikmat-Nya

yang mengenal Allah pasti mengenal dia
yang mengenal dia mengenal keutamaannya
yang bersumber pada lingkungan keluarganya
tempat manusia bermandikan cahaya12

Bagus Hasan
# Postingan: 16 Jan 2010 08:00
Balasan 


Siapa kah beliau.....?
ada yg bisa jawab...!

Sally
# Postingan: 16 Jan 2010 20:30
Balasan 


Itu pasti 'Ali Zainul-'Abidin

zainal
# Postingan: 17 Jan 2010 08:33
Balasan 


Ahmadiyah, Kelompok Pengekor Nabi Palsu
Apa itu Ahmadiyah?


Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900 M, yang dibentuk olehpemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah "majalah al-Adyan" yang diterbitkandengan bahasa Inggris.

Siapa Mirza Ghulam Ahmad?

Mirza Ghulam hidup pada tahun 1839-1908 M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839 M. Dia tumbuh di keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung dan menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang menghasut / berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik
.
Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris

Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam adalah Syaikh Abul Wafa', seorang pemimpin Jamiah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya
.
Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa' mengajaknya bermubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908 M.

Pada awalnya Mirza Ghulam berdakwah sebagaimana para dai Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian nabi kita Muhammad SAW.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya.
Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I'jaz Ahmadi, Barohin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I'jazul Masih, at-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.

Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah
1. Meyakini bahwa Mirza Ghulam adalah al-masih yang dijanjikan.
2. Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat; tidur dan mendengkur; menulis dan menyetempel; melakukan kesalahan dan berjimak. Maha tinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
3. Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
4. Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur'an.
5. Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut pemahaman maereka pemerintah inggris adalah waliul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur'an
6. Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
7. Membolehkan khamer, opium, ganja, dan apa saja yang memabukkan.
8. Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
9. Mereka mengatakan bahwa tidak ada al-Qur'an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
10. Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama `Al-Kitab al-Mubin', bukan al-Qur'an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin
11. .Mereka meyakini bahwa al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah al-Munawarrah dan Mekkah al-Mukarramah; bahkan lebih utama dari kedua tempat suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan ke sanalah mereka berhaji.
12. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang independen, dengan syariat yang independen pula; seluruh teman-teman Mirza Ghulam sama dengan sahabat Nabi Muhammad SAW

Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah
• Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.
• Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluarga bangsawan.
• Pada tahun 1953 M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai menteri luar negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.
• Pada bulan Rabiulawwal 1394 H, bertepatan dengan bulan April 1974 M, dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Mekkah al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan "kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak bermuamalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum muslimin."
• Majelis Ummat (parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah benama Nasir Ahmad. Debat ini belangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis pun mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.

Hal-Hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad:

* Pengakuannya sebagi nabi.
* Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
* Meniadakan berhaji ke Mekkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
* Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
* Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul
(bersatunya manusia dengan tuhan).
* Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah
anak tuhan.
* Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad SAW, dan
membuka pintu tersebut bagi siapa saja yang menginginkannya.

Penyebaran dan Aktifitas
* Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/ membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka ada.
* Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5 ribu mursyid dan dai yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.
* Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintahan Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.
* Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khususnya media massa. Mereka orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pintar, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat pemancar dengan nama "TV Islami" yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah ini

Pemimpin-Pemimpin Ahmadiyah
1. Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam bernama Nurruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul "Fashlb al-Khithab".
2. Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Labor. Keduanya adalah corong/ahli debat kelompok Ahmadiyah.
Muhammad Ali telah menulis terjemah al-Qur'an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain, "Haqiqat al-Ikhtilaf an-Nubuwwah fi al-Islam" dan "ad-Din al-Islami".
Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul "Matsal al-A`la fi al-Anbiya"' serta kitab-kitab lain.
Jamaah Ahmadiyah Lahor ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.
3. Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Di antara tulisannya berjudul, "Khatam an-Nabiyyin".
4. Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul "Anwar al-Khilafah", "Tuhfat al-Muluk", "Haqiqat an-Nubuwwah"
5. Dzhafrilah Khan, menteri luar negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti'aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadobsi dari ayat al-Qur'an:
Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Istiaroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapatpadang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Q.S. al-Mukminun:50)

Kesimpulan
Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kufur.

Maraji`:
1. Al-Mausu'ahal Muyassarahfial Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu'ashirah,
oleh Dr.Mani' Ibnu Hammad al-Jahani

2. Tabshir al Adyan bi ba di al-Madzahib wa al Adyan, oleh Muhammad as-Sabi'i




syafar
# Postingan: 17 Jan 2010 08:40
Balasan 


SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
SOSOK PENEGAK PANJI‐PANJI TAUHID


Sampai saat sekarang ini, masih ada sebagian kaum muslimin yang salah
paham dan ada juga yang menyebarkan berita‐berita bohong tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, oleh karena itu, untuk meluruskan dan menepis apa‐apa yang mereka tuduhkan tersebut, kami mengangkat tulisan Abu Aufa yang berjudul Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sosok Penegak PanjiPanji Tauhid, yang diterjemahkan dan dinukil dari buku : [1] Al‐Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Da'watuhu Wasiiratuhu, Lisamahatisy Asyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz. [2] Asy‐Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Hayaatuhu Wafikruhu, Ta'lif Dr.Abdullah Ash‐Shalih Al‐ 'Utsaimin (‐peny).

syafar
# Postingan: 17 Jan 2010 08:46
Balasan 


Keadaan Umat di Najd Pada Masa Sebelum Beliau
1. Keadaan Sosial Politik di Najd kala itu.
Mayoritas dari penduduk Najd kala itu terdiri dari kabilah‐kabilah Arab yang
dikenal akan nasabnya, dan para pendatang yang berdatangan untuk tinggal di
Najd hanyalah minoritas saja.
Waktu itu sisi pandang masyarakat Najd terhadap seseorang tergantung pada
nasab yang dia miliki. Hal ini sangat menyolok sekali terutama dalam urusan
perkawinan, lowongan mendapat pekerjaan dan lain sebagainya. Masyarakat
Najd terbagi menjadi dua kelompok atau dua golongan, Hadhari dan Badawi
(Badui), meskipun didapati perubahan sifat atau ciri pada sebagian penduduk.
Yang demikian itu menimbulkan kesulitan bagi kita untuk menggolongkan
kelompok yang ketiga ini, karena mereka itu bukan Badui murni dan juga tidak
Hadhari murni.1.
Orang‐orang Badui merasa bangga atas diri mereka dan kehidupan padang
pasirnya. Mereka merasa bahwa orang‐orang Hadhari hina di hadapan mereka.
Penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah kekayaan binatang, dan yang
paling berharga bagi mereka diantara binatang‐binatang yang ada adalah unta.
Dan kebetulan daerah Najd adalah daerah yang kaya akan unta sehingga tidak
aneh kalau Najd biasa disebut dengan Ummul Ibil2.
Adapun orang‐orang Hadhari (orang‐orang kota) memiliki pandangan yang
berbeda dengan orang‐orang Badui, yang mana sebagian mereka berpendapat
bahwa sifat kejantanan yang ada pada orang‐orang Hadhari ataupun yang ada
pada orang‐orang Badui berada pada garis yang sama3, sebagian yang lain
berpendapat bahwa orang‐orang Badui harus diperlakukan dengan kekerasan,
karena dengan cara demikian mereka bisa menjadi baik4
Adapun penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah bertani. Sedangkan
perdagangan adalah satu‐satunya penunjang kehidupan ekonomi yang ada
atau dimiliki oleh orang‐orang Badui maupun orang‐orang Hadhari.
Mengenai hal kepemimpinan, sangatlah jauh berbeda antara orang‐orang
Badui dengan orang‐orang Hadhari. Di mana seorang pemimpin yang ada di
kalangan orang‐orang Badui haruslah memenuhi kriteria seorang pemimpin,
misalnya memiliki derajad lebih dari yang lain, pemberani dan memiliki
pandangan dan gagasan yang jitu. Cara‐cara mereka ini lebih mirip dengan
sistem demokrat. Adapun orang‐orang Hadhari lebih cenderung pemilihan
pemimpin mereka jatuh ke tangan orang‐orang yang memilki kekuatan dan
kekuasaan, cara‐caranya‐pun sudah banyak dicampuri dengan kelicikan dan
tipu muslihat demi teraihnya kepemimpinan tersebut.
2. Keadaan Kegaamaan di Najd waktu itu.
Penduduk negeri Najd sebelum adanya dakwah yang dilakukan oleh Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab keadaannya menyedihkan. Keadaan yang
apabila seorang mukmin menyaksikannya tidak akan ridla selama‐lamanya.
Syirik (persekutuan) terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala tumbuh dengan
suburnya, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sampai‐sampai kubah,
pepohonan, bebatuan, gua dan orang‐orang yang dianggap sebagai wali pun
disembah sebagaimana layaknya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Penduduk Najd
kala itu telah terpesona dengan kehidupan dunia dan syahwat. Sehingga pintupintu
kesyirikan terbuka lebar untuk mereka. Marja' (sandaran) mereka
kepada ahli sihir dan para dukun, sehingga negeri Najd terkenal akan hal itu.
Bahkan Makkah, Madinah dan Yaman menjadi basis kemusyrikan kala itu.
Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan umat Islam ini dengan
dilahirkannya seorang mujaddid besar, penegak panji‐panji tauhid dan
penyampai kebenaran yang bersumber dari Allah dan Rasul‐Nya. Dialah Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kelak berjuang mati‐matian dalam rangka
tegaknya tauhidullah dan menebas habis setiap yang berbau syirik terhadap
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Nasab dan Kelahiran Beliau
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup ditengah‐tengah keluarga yang
dikenal denan nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf), dimana Ali Musyarraf
ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan
Musyarraf adalah kakek beliau ke‐9 menurut riwayat yang rajih. Dengan
demikian nasab beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin
Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin
Musyarraf5
Beliau dilahirkan di negeri Uyainah pada tahun 1115H. Daerah Uyainah ini
terletak di wilayah Yamamah yang masih termasuk bagian dari Najd. Letaknya
berada di bagian barat laut dari kota Riyadh yang jaraknya (jarak antara
Uyainah dan Riyadh) lebih kurang 70 Km.
Perjalanan Beliau Dalam Menuntut Ilmu
Ibnu Ghannam berkata : "Muhammad bin Abdul Wahhab telah menampakkan
semangat thalabulilmi
nya sejak usia belia. Beliau memiliki kebiasaan yang
sangat berbeda dengan anak‐anak sebayanya. Beliau tidak suka dengan mainmain
dan perbuatan yang sia‐sia.6. Beliau mulai thalabulilmi
dengan
mendalami al‐Qur'anul Karim, sehingga tidak aneh kalau beliau sudah hafal
ketika umur 10 tahun.7. Yang demikian itu terjadi pada diri beliau dikarenakan
banyak faktor yang mendukungnya. Diantaranya adalah semangat beliau yang
sangat menggebu‐gebu dalam menuntut ilmu, juga keadaan lingkungan
keluarga yang benar‐benar mendorong dan memicu beliau untuk terus
menerus menuntut ilmu. Dan Syaikh Abdul Wahhab‐lah guru dan sekaligus
orang tua beliau yang pertama‐tama mencetak kepribadian beliau.
Sampai‐sampai ketika ayah beliau Syaikh Abdul Wahhab menulis surat kepada
seorang temannya mengatakan (dalam surat tsb) : " Sesungguhnya dia
(Muhammad bin Abdul Wahhab) memiliki pemahaman yang bagus, kalau
seandainya dia belajar selama satu tahun niscaya dia akan hafal, mapan serta
menguasai apa yang dia pelajari. Aku tahu bahwasanya dia telah ihtilam
(baligh) pada usia dua belas tahun. Dan aku melihatnya sudah pantas untuk
menjadi imam, maka aku jadikan dia sebagai imam shalat berjamaah
dikarenakan ma'rifah dan ilmunya tentang ahkam. Dan pada usia balighnya
itulah aku nikahkan dia. Kemudian setelah nikah, dia meminta izin kepadaku
untuk berhaji, maka aku penuhi permintaannya dan aku berikan segala
bantuan demi tercapai tujuannya tersebut. Lalu berangkatlah dia menunaikan
ibadah haji, salah satu rukun dari rukun‐rukun Islam".8
Setelah berhaji beliau belajar dengan para Ulama Haramain (Makkah dan
Madinah) selama lebih kurang dua bulan. Kemudian setelah itu kembali lagi ke
daerah Uyainah. Setelah pulang dari haji beliau terus memacu belajar. Beliau
belajar dari ayah yang sekaligus sebagai guru pelajaran Fiqh Hambali, tafsir,
hadits dan tauhid.9
Tidak berapa lama kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya. Kemudian menuntut ilmu
dari Ulama Haramaian, khususnya para ulama Madinah Al‐Munawarah. Di
Madinah beliau belajar dien dengan serius, dan Madinah saat itu adalah tempat
berkumpulnya ulama dunia. Diantara guru beliau yang paling beliau kagumi
dan senangi adalah Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an‐Najdi dan Syaikh
Muhammad Hayat as‐Sindi. Setelah beliau merasa cukup untuk menuntut ilmu
dari para ulama Madinah al‐Munawwarah ini maka beliau kembali lagi ke
kampung halaman, Uyainah.
Setahun kemudian beliau memulai berkelana thalabulilmi
menuju daerah Irak
dan Ahsaa.10 Kota Damaskus saat itu sebuah kota yang sarat akan kegiatan
keislaman. Disana terdapat sebuah madrasah yang digalakkan padanya ke
ilmuan tentang madzhab Hambali dan kegiatan‐kegiatan yang menunjang
keilmuan tersebut. Oleh karena itu negeri yang pertama kali di cita‐citakannya
untuk menuntut ilmu adalah Syam. Di negeri itulah Damaskus berada. Namun
dikarenakan perjalanan dari Najd menuju Damaskus secara langsung sangat
sulit, maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pergi menuju Bashrah
(Irak),11 pada saat itu beliau berkeyakinan bahwa perjalanan dari Bashrah
menuju Damaskus sangatlah mudah.
Setelah di Bashrah, ternyata apa yang beliau yakini sementara ini tidak sesuai
dengan kenyataan yang sebenarnya. Perjalanan dari Basrah menuju Damaskus
yang semula dianggap mudah ternyata sulit. Maka bertekadlah Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab untuk tinggal di Bashrah. Beliau belajar Fiqh
dan Hadits dari sejumlah ulama yang berada di kota Bashrah tersebut ‐hanya
saja dari nara sumber yang ada‐ tidak menyebutkan nama guru‐guru beliau
yang ada di kota tersebut kecuali hanya seorang saja yaitu Syaikh Muhammad
al‐Majmu'i.12 Disamping ilmu fiqh dan hadits beliau juga mendalami ilmu
QawaidulArabiyyah
sehingga beliau betul‐betul menguasainya. Bahkan selama
tinggal di Bashrah beliau sempat mengarang beberapa kitab yang berkenaan
dengan Qawaidul Lughah alArabiyyah.
13
Ternayata tidak semua orang yang ada di Bashrah senang terhadap Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama‐ulama yang sepemikiran dengan
beliau, khususnya para ulama suu' yang ada di Bashrah, dimana mereka tidak
henti‐hentinya menentang dan memusuhi beliau. Nah dikarenakan ulah dan
permusuhan mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itulah
akhirnya beliau dengan berat hati meninggalkan negeri Bashrah, tempat beliau
belajar dan dakwah saat itu.
Kemudian beliau pergi menuju suatu tempat yang bernama azZubair.
Setelah
perjalanan beberapa saat di sana, beliau melanjutlan perjalanan menuju al18
Ahsaa'. Di daerah tersebut beliau melanjutkan studinya dengan belajar ilmu
dien dari para ulama al‐Ahsaa'. Di antara guru‐guru beliau yang ada di al‐
Ahsaa' tersebut adalah Syaikh Abdullah bin Fairuz, Syaikh Abdullah bin Abdul
Lathif serta Syaikh Muhammad bin Afaliq. Dan memang, Ahsaa' saat itu
merupakan gudang nya ilmu sehingga orang‐orang Najd dan orang‐orang
sebelah timur jazirah Arab berdatangan ke Ahsaa' untuk menuntut ilmu di
sana.
Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melanjutkan kelana thalabulilmi
nya ke daerah Haryamla dan tiba di sana pada tahun 1115H14. Dimana
kebetulan ayah beliau yang tadinya menjadi qadhi di Uyainah telah pindah ke
daerah tersebut. Maka berkumpullah beliau dengan ayahnya di sana.
Tapi baru dua tahun bertemu dan berkumpul dengan orang tua beliau. Ayah
beliau Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman meninggal dunia, tepatnya pada
tahun 1153H 15. Sepeninggal ayahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
menggantikan ayahnya dalam

syafar
# Postingan: 17 Jan 2010 08:51
Balasan 


melaksanakan segala aktivitasnya di negeri
Haryamala tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah
mulai tersohor. Sehingga orang‐orang pun mulai berdatangan ke Haryamala untuk menuntut ilmu dari beliau. Bahkan para pemimpin negeri pun di sekitar Haryamala pun menerima ajakan dan dakwah beliau. Sehingga tidak aneh kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya dua tahun tinggal di Haryamala (sepeninggal ayahnya) demi menyambut ajakan dan tawaran Amir negeri Uyainah Utsman bin Ma'mar untuk tinggal di negeri Uyainah, negeri kelahiran beliau.16.
Foote Note
1. 'Unwaanul Majdi Fil Taariikhin Najd karya Utsman bin Basyar juz 2 hal.
189, Hawadits karya Ibrahim bin Isa hal. 32,36,50.
2. Mulahazhat III Burikat juz 1 hal. 69
3. Minsyaimil Arab Lifahd al‐Marik juz 3 hal.99
4. Diwanun‐Nabti II Khalid al‐Farj juj 1 hal.43.
5. Kitab Raudhah II Hussain bin Ghannam juz 1, hal.25, Unwanul majdi fil
Tarikh Najd II Utsman bin Basyar juz I hal. 113, Hawadits II Ibrahim bin
Isa hal. 125. Rasaali (Majmu'ur Rasaali wal Masaali an‐Najdiyyah) juz 3
hal.379.
6. Raudhah II Husain bi Ghannam juz 1 hal.25
7. Idem.
8. Raudhah II Husain bin Ghannam juz 1 hal, 25
9. Raudhah II Husain bin Ghannam juz 1 hal, 26
10. Ulama'ud Dakwah II Abdur Rahman Ali Syaikh hal. 7
11. Unwanul Majdi III Haidary hal. 221, Ulama'ud Dakwah II Abdur Rahman
Ali Syaikh hal. 7
12. Unwanul Majdi Fi Tarikhi Najd II Utsman bin Basyar juz 1 hal. 21
13. Raudhah II Husain bin Ghannam juz 1 hal. 27
14. Unwanul Majdi Fi Tarikhi Najd II Utsman bin Basyar juz 1 hal. 20‐21
15. Idem
16. Raudhah II Husain bin Ghannam juz 1 hal. 30
Dakwah Beliau Sebelum Bergabung Dengan Amir Dir'iyyah
Sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab senantiasa berdakwah di setiap tempat dimana beliau belajar. Di Najd itu sendiri atau di Bashrah, di Az‐ Zubair, al‐Ahsaa', Haryamala dan lain sebagainya. Akan tetapi beliau mulai mengerahkan segala apa yang dimiliki sekembali beliau dari Haryamala, tepatnya mulai tahun 1155H. Beliau mulai dakwah mubarakah tersebut di negeri Uyainah tempat kelahiran dan kampung halaman beliau. Amir Uyainah Utsman bin Muhammad bin Ma'mar sangat gembira dengan kedatangan beliau, bahkan dia berkata kepada Syaikh : "Tegakkanlah dakwah di jalan Allah dan kami senantiasa akan membantumu". Maka mulaialah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sibuk dengan urusan dakwah, ta'lim, serta mengajak manusia kepada kebaikan dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah masyhur di kalangan penduduk Uyainah. Mereka datang ke tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk thallabul ilmi, bahkan penduduk
negeri sebelah pun datang ke Uyainah dalam rangka ingin belajar kepada
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Pada suatu hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menemui Amir
Uyainah, kemudian beliau berkata : "Wahai Amir (Utsman bin Muhammad bin Ma'mar), izinkanlah saya untuk menghancurkan kubah Zaid bin Khathab, karena sungguh kubah tersebut dibangun dalam rangka menentang syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Allah Ta'ala tidak akan ridha selama‐lamanya dengan amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah
melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid, kubah Zaid ini telah menjadi
fitnah bagi manusia dan merubah aqidah mereka. Oleh karena itu wajib bagi
kita untuk menghancurkannya". Kemudian Amir Uyainah menjawab : "Silakan
kalau engkau memang menghendaki yang demikian itu". Lalu Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab memohon kepada Amir Uyainah agar beliau
dibantu oleh tentara Uyainah, karena ditakutkan akan adanya perlawanan dari
penduduk desa Jabaliyah, desa terdekat dari kubah Zaid bin Khathab.
Maka keluarlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama 600 tentara
Uyainah dan di tengah‐tengah mereka ada Utsman bin Muhammad bin Ma'mar,
Amir negeri Uyainah. Setelah penduduk Jabaliyah mendengar khabar bahwa
Kubah Zaid bin Khathab akan dihancurkan, maka serempak mereka berniat
untuk mempertahankan kubah tersebut. Hancur leburlah kubah Zaid bin
Khathab yang sudah lama mereka agung‐agungkan dan mereka sembah.
Demikian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau selalu memberantas
hal‐hal yang berbau syirik dan hal‐hal yang mengarah kepada kesyirikan.
Beliau menegakkan hukuman had (hukuman cambuk atau rajam atau potong
tangan bagi yang berhak). Sehingga, sampailah berita tentang beliau ini ke
telinga Amir Al‐Ahsaa', saat itu Sulaiman bin Urai'ir al‐Khalidi, dan para
pengikutnya dari bani Khalid. Khabar yang dipahami oleh mereka bahwa
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah orang yang suka menhancurkan
kubah dan suka merajam wanita. Akhirnya dia berkirim surat kepada Amir
Uyainah agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibunuh, kalau tidak,
maka dia tidak akan menyerahkan pajak emas yang biasa diberikan kepada
Amir Uyainah dan dia pun akan menyerang negeri Uyainah.
Rasa cemas pun menghantui diri Amir Uyainah. Yang demikian pada akhirnya
dia menemui Syaikh Muhamad bin Abdul Wahhab seraya berkata : "Wahai
Syaikh .... sesungguhnya Amir Al‐Ahsaa' telah menulis surat kepadaku begini
dan begini. Dia menginginkan agar kami membunuhmu. Kami tidak ingin untuk
membunuhmu ! dan kami pun tidak berani dengan dia, tiada daya dan upaya
pada kami untuk menentangnya. Oleh karena itu kami berul‐betul mengharap
Syaikh agar sudi meninggalkan negeri Uyainah ini". Kemudian Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "Wahai Amir ...., sesungguhnya apa
yang aku dakwahkan ini adalah agama Allah dan realisasi kalimat La ilaaha
illallah Muhammadur Rasulullah. Maka barangsiapa yang berpegang teguh
dengan agama ini serta menegakkannya di bumi Allah ini, niscaya Allah
Subhanahu wa Ta'ala akan menolongnya dan memberinya kekuatan serta
menjadikan dia sebagai penguasa di negeri para musuhnya. Jika engkai
bersabar dan beristiqamah serta mau menerima ajaran ini, niscaya Allah
Subhanahu wa Ta'ala akan menolongmu, menjagamu dari Amir Al‐Ahsaa' dan
yang lainnya dari musuh‐musuhmu, serta Allah Ta'ala akan menjadikanmu
sebagai penguasa atas negerinya dan keluarganya". Kemudian Amir Uyainah
berkata lagi : "Wahai Syaikh ...., sesungguhnya kami tiada daya dan upaya untuk
memeranginya dan kami tiada mempunyai kesabaran untuk menentangnya".
Maka tiada pilihan lain bagi syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab, kecuali
harus keluar dan meninggalkan negeri Uyainah, kampung halaman beliau
sendiri.
Keberadaan Beliau Di Negeri Dir'iyyah
1. Sebab Perginya Beliau menuju Dir'iyyah.
Saat itu sudah menjadi suatu keharusan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab untuk segera meninggalkan negeri Uyainah, maka tempat yang paling
cocok dan sesuai bagi kelancaran dakwah menurut beliau adalah negeri
Dir'iyyah. Yang demikian itu dikarenakan negeri Dir'iyyah semakin hari
semakin kuat dalam hal ketentaraan. Hal itu terbukti dengan direbutnya
kembali kekuasaan yang selalu dirong‐rong oleh Sa'd bin Muhammad
pemimpin Bani Khalid1 Di sisi lain, hubungan antara para pemimpin Dir'iyyah
dengan pemimpin Bani Khalid kurang harmonis. Maka di saat pemimpin Bani
Khalid bersekongkol dengan Amir Uyainah untuk mengeluarkan Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, di saat itu pula Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab ingin bergabung dengan para pemimpin Dir'iyyah.
Tapi sebab yang terpenting dari kepergian beliau menuju negeri Dir'iyyah
adalah dikarenakan dakwah yang beliau sebarkan selama ini mendapat
sambutan yang hangat dari para pemimpin negeri tersebut. Di antara mereka
adalah keluarga Suwailin, kedua saudara Amir Dir'iyyah (Tsinyan dan
Musyairi) dan juga anaknya yang bernama Abdul Aziz 2.
2. Pertemuan Beliau Dengan Amir Dir'iyyah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggalkan negeri Uyainnah
kemudian pergi ke negeri Dir'iyyah dalam keadaan dijaga dan dikawal oleh
orang‐orangnya Utsman bin Ma'mar (Pemimpin Uyainah)3.
Nara sumber yang ada, saling berbeda dalam menentukan tahun kepindahan
beliau ke negeri Dir'iyyah. Namun yang terkuat (arjah) adalah perkataan Ibnu
Ghannam yang menyebutkan bahwa kepindahan Beliau dari Uyainah ke
Dir'iyyah terjadi ditahun 1157H. Hal ini dikarenakan Ibnu Ghannam lebih
dekat kepada Syaikh dibanding dengan yang lainnya dari kalangan
mumanikhin (para ahli tarikh)4.
Di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berada di rumah keluarga
Suwailin, datanglah Amir Dir'iyyah Muhammad bin Sa'ud atas anjuran istrinya
demi menyambut kedatangan Syaikh Muhammad. Yang akhirnya terwujud
suatu kesepakatan bersama untuk saling beramal dalam rangka menegakkan
dakwah Islamiyah semaksimal mungkin. Dan kesepakatan inilah yang nantinya
sebagi asas dan pondasi bagi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia).
Sebagian dari para penulis ada yang berpendapat bahwa dari kesepakatan itu
pula tercetuslah suatu pernyataan, bahwasanya urusan pemerintahan dipikul
oleh Muhammad bin Sa'ud dan keturunannya, sedang urusan agama (diniyyah)
di bawah pengawasan dan bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
beserta keturunannya 5. Namun nampaknya pernyataan yang seperti ini belum
pernah ada, hanya saja kebetulan keturunan Muhammad bin Sa'ud sangat
berbakat dalam mengendalikan urusan pemerintahan, demikian juga
keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat mumpuni untuk
melanjutkan perjuangan beliau, sehingga hal ini terkesan sudah diatur
sebelumnya, padahal hanya kebetulan saja 6.
Demikianlah, Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab dan Amir Dir'iyyah masih
berada diatas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sampai
mereka pergi ke rahmatullah. Dan selanjutnya diteruskan oleh keturunan
mereka masing‐masing di kemudian hari.
Foote Note
1. 'Unwaanul Majdi Fii Taarikhin Najd karya Utsman bin Basyar juz 2, hal.
233
2. Raudhah karya Hushain bin Ghannam juz 1 hal.31,222
3. 'Unwaanul Majdi Fii Taarikhin Najd karya Utsman bin Basyar juz 1,
hal.23
4. Raudhah karya Ibnu Ghannam juz 2 hal.8 'Unwaanul Majdi fii Tarikhin
Najd juz 1 hal. 32 Hawadits karya Ibrahim bin Isa hal.108.
5. Lam'usy Syihab hal. 30,35

syafar
# Postingan: 17 Jan 2010 08:52
Balasan 


6. Asy‐Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Hayatuhu wa Fikruhu karya
Abdullah bin Ash‐Shalih al‐'Utsaimin hal.55‐56.
Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
1. Apakah Yang Dimaksud Wahhabiyyin ..?
Merupakan suatu hal yang sudah ma'ruf bahwasanya kata Wahhabiyyin adalah
sebutan bagi para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam
aqidah dan juga sebutan bagi orang‐orang Najd yang berasaskan metode beliau
dalam hal dakwah. Sebagaimana pula kata Wahhabiyin digunakan sebagai
sebutan bagi aqidah beliau dan para pengikutnya.
Merupakan suatu hal yang ma'ruf pula bahwasanya penyandaran (nisbah) kata
tersebut lebih tepat kepada nama ayahnya dari pada nama beliau sendiri.
Penyandaran seperti ini kalau dilihat dari segi bahasa, merupakan
penyandaran yang shahih. Sebagaimana disandarkannya para pengikut Imam
Ahmad kepada nama ayah beliau yaitu dengan sebutan Hanbaliyyah atau
Hanabillah. Dan diantara hikmah dari digunakannya sebutan tersebut
(Wahhabiyyah) adalah tidak terjadi kesamaran (iltibas) antara penyandaran
kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan kepada penyandaran
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam1. Dan tidak diragukan lagi
bahwa penyebutan kata‐kata Wahhabiyyin atau Wahhabiyyah ini keluar dari
lisan orang‐orang yang tidak senang terhadap apa‐apa yang diajarkan oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab2.
Tujuan dari penyebutan kata‐kata tadi agar para manusia lari dan enggan
untuk menerima dakwah beliau. Dengan kata lain, bahwasanya Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh telah menyeru kepada agama baru
atau madzhab kelima3.
Para pendukung dakwah Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab, khususnya
yang terdahulu tidak rela dengan penyebutan atau penamaan seperti itu,
bahkan mereka menamai diri mereka dengan sebutan yang lain, seperti Diinul
Islam, AlMuwahhidin
serta menamai dakwah yang mereka lakukan dengan
sebutan Da'watutTauhid,
AdDakwah
AsSalafiyah
atau AdDakwah
saja 4.
Dan yang tampak adalah bahwasanya mereka lebih suka untuk menggunakan
sebutan AlMuwahhidin
sebagai penegas atas aqidah yang bersih yang ada pada
mereka dan sebagai pembeda antara diri mereka dengan orang‐orang yang
sudah menyimpang dari agama Islam yang haq ini.
Yang jelas, kerancuan penilaian manusia terhadap dakwah yang dilakukan
oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya karena
disebabkan hal yang bermacam‐macam diantaranya : jeleknya pemahaman
segelintir orang yang menisbatkan diri kepada dakwah Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab akan hakekat dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab itu sendiri, dan juga banyaknya tuduhan‐tuduhan yang
dihembuskan oleh musuh‐musuh beliau terhadap dakwah yang beliau
lakukan5.
Dua perkara itulah sumber bagi kritik dan tuduhan yang tidak‐tidak atas
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya 6.
2. Gencarnya Permusuhan Mereka Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab dan Para Pengikutnya.
Para penentang dakwah beliau dari kalangan kaum muslimin terbagi menjadi
dua kelompok.
• Sekelompok manusia dari ahlu Najd yang selalu menentang dakwah
beliau tetapi hanya pada masa‐masa awal dakwah beliau.
• Sekelompok manusia yang berelebihan dalam menentang dakwah beliau.
Mereka berkata bhawa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengakungaku
bahwa dirinya adalah seorang nabi, tapi dia sembunyikan hal itu
karena takut terhadap manusia. Dan dia tidaklah melaksanakan
kewajiban‐kewajiban agama kecuali untuk menutup‐nutupi keaiban dan
tipuan saja.7.
Sebagai tambahan dari itu semua, mereka juga mensifati Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya dengan sebutan AlMubtadi'ah,
AlMalahidah
dan AlKhawarij.
Namun sebutan yang terkahir inilah yang sering
dipakai oleh musuh‐musuh beliau. Yang demikian itu dikarenakan
persangkaan mereka bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan
para pengikutnya menganggap hanya diri mereka saja yang muslimin adapun
selain mereka tidak, dan juga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya memerangi setiap orang yang tidak cocok terhadap apa yang
mereka dakwahkan, serta mereka adalah orang‐orang yang rajin dalam
menjalankan ibadah sebagaimana Khawarij di zaman para shahabat dahulu.
Adalah suatu yang ma'ruf bahwasanya sangkaan dan tuduhan yang
dilancarkan oleh musuh‐musuh beliau adalah tidak sesuai dengan kenyataan
yang ada. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya sangat
jauh berbeda dengan kelompok Khawarij dalam hal‐hal yang sudah jelas,
khususnya masalah aqidah. Dan juga berbeda sekali dalama masalah ihtiram
terhadap para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, khususnya
Utsman dan Ali. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat menaruh rasa
ihtiram terhadap mereka, sedang orang‐orang Khawarij sangat mengucilkan
para shahabat bahkan mengkafiran sebagian dari mereka. Maka sikap Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah‐masalah diatas dan juga dalam
masalah Imamah (kepemimpinan) sesuai dan mengikuti manhaj Ahlus Sunnah
Wal Jama'ah8. Perbedaan yang sangat menyolok antara Khawarij dengan
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah bahwasanya kaum Khawarij
mengkafirkan Ahlul Kabair (selain syirik), sedangkan Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan para pengikutnya dalam mensikapi ahlul kabair adalah
sebagaimana madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yaitu Ashin (orang maksiat)
atau fasiq tapi tidak keluar dari Islam9.
Diantara musuh beliau ada yang mengatakan bahwa munculnya Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab ini sama dengan tempat munculnya
Musailamah al‐Kadzab. Sebagaimana mereka mengatakan bahwasanya ada
riwayat‐riwayat yang mencela negeri Najd. Selain itu mereka juga mengatakan
bahwasanya Syaikh Muhamamd bin Adbul Wahhab ini adalah keturunan Dzil
Khuwaishirah yang mana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
mengabarkan tentang mereka bahwasanya nanti ada dari kalangan mereka
yang keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya10.
Namun dengan mudahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya membantah perkataan tadi. Mereka menjawab. Sesungghnya
tempat tidak pantas untuk dijadikan sebagai ukuran (mizan) terhadap sesuatu
bahkan tidak didapati seorang nabi berada di suatu daerah kecuali daerah tadi
adalah daerah yang sangat rusak.
Selanjutnya mereka mengatakan : "Sesunguhnya Najd yang ada dalam hadits
adalah Najdul Iraq bukan Najd Saudi, dan maksud dari apa yang dijelaskan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya dari keturunan Dzil
Khuwaishirah ada yang keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah
dari busurnya adalah keturunan Dzil Khuwaishirah yang berada di daerah
Haruriyyah yang mengadakan pemberontakan terhadap kekhalifahan Ali bin
Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu11.
Mengingat begitu rincinya pembahasan mengenai aqidah Syaikh Muhamamd
bin Abdul Wahhab silakan membaca dan mengkaji buu‐buku beliau,
diantaranya :
1. Kitabut Tauhid.
Judul lengkap dari buku ini adalah Kitabut Tauhid Alladzi Huwa Haqqullahi 'alal
Abiid. Menurut riwayat Ibnu Ghannam, beliau menulis buku ini ketika masih di
Haryamala 12, sedangkan cucu beliau Syaikh Muhammad bin Hasan
mengatakan buku ini ditulis di Bashrah 13. Namun itu semua tidak jadi
masalah, yang jelas buku ini yang pertama kali beliau tulis. Kemudian buku ini
di syarah oleh kedua cucunya (Abdurrahman bin Hasan dan Sulaiman bin
Abdullah) dengan judul Fathul Majid dan Taisirul Azizil Hamid.
2. Kasyfusy Syubhat.
Buku ini ditulis untuk membantah kerancuan tauhid yang dipegangi oleh
musuh‐musuh beliau 14.
Buku ini ditulis di hari‐hari akhir beliau di Uyainah atau setelah beliau pindah
ke Dir'iyyah 15.
3. Mufidul Mustafiid fii kufri Taarikit Tauhid.
Buku ini ditulis pada tahun 1167H. Buku ini juga senada dengan buku Kasyfusy
Syubhat yaitu membahas kerancuan tauhid yang dipegangi oleh musuh‐musuh
beliau 16.
4. Al Ushulul Tsalatsah wa Adillatuhaa.
Buku ini termasuk buku tipis, karena beliau tidak begitu memakan waktu
dalam menyelesaikan tulisan tersebut. Basyar menyebutkan bahwa buku ini
ditulis sebelum beliau pindah ke Dir'iyyah.
5. Kalimat fii bayani syahadati an laa ilaaha illallah wa bayani tauhid.
6. Arba'u Qawaaid liddin.
7. Kalimatun fii ma'rifati syahaadati an laa ilaaha illallah wa anna
muhammada rasulullah.
8. Arba'u qawaa'idin dzakarahallahu fii muhkami kitabihi.
9. Almasaailul khamsu alwaajibu ma'rifatuha.
10. Tafsiiru kalimatit tauhid.
11. Sittatu ushulin 'adliimatin.
12. Sittatu mawaadhi manqulatun minas sirah an nabawiyyah.
13. Qishashul Anbiyaa'
14. Masailul jaahiliyyah
15. Mukhtashar siiratur rasul
16. Mukhtashar zaadul ma'ad.
17. Attafsiir 'alaa ba'dhi suaril qur'an
18. Ushul Iman
19. Fadhul Islam
20. Kitaabul Kabaa'ir
21. Nahiihatul muslimin bi ahaadiitsi khatamil mursalin.
22. Kitabul fadhailil qur'an
23. Ahaadits fi fitani walhaadits
24. Ahkamu tammannilmaut
25. Hukmul ghibati wannamimah
26. Hukmu katmil ghaidi wal hilmi
27. Majmuu'ul hadiits 'alaa abwaabil fiqhi.
28. Aadaabul masyi ilash shalati
29. Ibthaalu waqfil janat wal itsmi
30. Ahkamush shalaati
31. Mukhtasharul inshafi wasy syarhu kabir
32. Khuthabusy Syaikh
33. Mukaatabaatusy Syaikh
34. Fataawasy Syaikh
35. Kitaabaatun ukhra massuubatun ilas Syaikh
Diterjemahkan dan dinukil dari buku :
1. Al Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Da'watuhu wasiiratuhu,
Lisamahitisy Asy‐Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
2. Asy‐Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Hayatuhu Wa Fikruhu, Ta'lif
Dr. Abdullah Ash‐Shalih Al‐Utsaimin.
Disalin dari Majalah As‐Sunnah 11/1/1415‐1994. hal. 55‐58
Foote Note.
1. Asy‐Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu Wa Fikruhu karya
Asy‐Syaikh Abdullah bin Ash‐Shalih Al‐Utsaimin hal. 101
2. Asy‐Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu Wa Fikruhu karya
Asy‐Syaikh Abdullah binAsh‐Shalih Al‐Utsaimin hal. 101.
3. Raudhah karya Husain bin Ghannam juz 1 hal. 139.
4. Raudhah karya Husain bin Ghannam juz 1 hal 31, Al‐Hadiyyah
Assunniyah Wattuhfah Al‐Wahhabiyyah An‐Najdiyyah disusun oleh
Sulaiman bin Sahman hal. 27, Ulama'ud Dakwah karya Abdir Rahman Ali
Syaikh.
5. Raudhah karya Husain bin Ghannam juz 1 hal.1

syafar
# Postingan: 17 Jan 2010 08:55
Balasan 


6. Raudhah karya Husain bin Ghannam juz 1 hal. 158, Al‐Hidayyah hal. 31.
7. Misbahul Anaam hal. 3, Ad‐Daur hal. 47 dan Al‐Asinnah hal. 12.
8. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu Wa Fikruhu, Ta'lif Asy‐
Syaikh Abdullah Ash‐Sholih Al‐Utsaimin hal. 105 Rasail juz 4 hal. 59‐62.
9. Ibnu Taimiyyah karya Abi Zahroh hal. 166, Al‐Islam karya
Fadhlurrahman hal. 86.
10. Shawaiq karya Sulaiman bin Abdul Wahhab hal. 30‐35.
11. Asy‐Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu Wa Fikruhu, Ta'lif
Asy‐Syaikh Abdullah Ash‐Sholih Al‐Utsaimin hal. 107.
12. Lihat Raudhah juz 1 hal.30.
13. Lihat Al‐Ajwibah juz 9 hal. 215
14. Raudhah karya Ibnu Ghannam juz 1 hal.61
15. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu Wa Fikruhu hal. 77‐79.
16. Syaikh Mihammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu Wa Fikruhu hal. 77‐79.
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/861
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/865
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/867

mono
# Postingan: 17 Jan 2010 09:00
Balasan 


Ketiga: Syarat perbuatan yang wajib diingkari

Lihat: Tanbiihul Ghaafiliin, Ibnu An Nahhas, hal. 25-30, Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Mungkar, Al Qodhy Abu Ya’la, hal. 158, Jami’ Ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab, 2/269-271, Al Adabusy Syar’iyah, Ibnu Muflih, 2/188-190

Tidak semua kemungkaran dan kesalahan yang wajib diingkari, kecuali perbuatan dan kemungkaran yang memenuhi persyaratan berikut ini:

1. Perbuatan tersebut benar suatu kemungkaran, kecil atau besar.

Maksudnya: Nahi mungkar tidak khusus terhadap dosa besar saja, tetapi mencakup juga dosa kecil, dan juga tidak disyaratkan kemungkaran tersebut berbentuk maksiat, barang siapa yang melihat anak kecil atau orang gila sedang meminum khamr maka wajib atasnya menumpahkan khamr tersebut dan melarangnya, begitu juga jika seseorang melihat orang gila melakukan zina dengan seorang perempuan gila atau binatang, maka wajib atasnya mengingkari perbuatan tersebut sekalipun dalam keadaan sendirian, sementara perbuatan ini tidak dinamakan maksiat bagi orang gila.

2. Kemungkaran tersebut masih ada.

Maksudnya: Kemungkaran tersebut betul ada tatkala seorang yang bernahi mungkar melihatnya, apabila si pelaku telah selesai melakukan kemungkaran tersebut maka tidak boleh diingkari kecuali dengan cara nasihat, bahkan dalam keadaan seperti ini lebih baik ditutupi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

...ن ستر ...سل...ا ستره الله في الدنيا والآخرة

“Barangsiapa yang menutupi (kesalahan) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (dosa dan kesalahan)nya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Sebagai contoh: Seseorang yang telah selesai minum khamr kemudian mabuk, maka tidak boleh diingkari kecuali dengan cara menasihati apabila ia telah sadar. Dan ini (menutupi kesalahan dan dosa seorang muslim) tentunya sebelum hukum dan permasalahan tersebut sampai ke tangan pemerintah atau pihak yang berwenang, atau orang tersebut seseorang yang berwibawa dan tidak dikenal melakukan kemungkaran dan keonaran, apabila permasalahan tersebut telah sampai ke tangan pemerintah dengan cara yang syar’i, dan orang tersebut dikenal melakukan kerusakan, kemungkaran dan keonaran, maka tidak boleh ditutupi dan diberi syafaat. Adapun kemungkaran yang diperkirakan akan muncul dengan tanda-tanda dan keadaan tertentu, maka tidak boleh diingkari kecuali dengan cara nasehat lewat ceramah agama, khutbah dll.

3. Kemungkaran tersebut nyata tanpa dimata-matai.

Maksudnya: Tidak boleh memata-matai suatu kemungkaran yang tidak jelas untuk diingkari, seperti seseorang yang menutupi maksiat dan dosa di dalam rumah dan menutup pintunya, maka tidak boleh bagi seorang pun memata-matai untuk mengingkarinya, karena Allah ta’ala melarang kita untuk memata matai, Allah ta’ala berirman:

يَا أَي'ُهَا ال'َذِينَ آ...َنُوا اج'تَنِبُوا كَثِيرًا ...ِنَ الظ'َنِ' إِن'َ بَع'ضَ الظ'َنِ' إِث'...ٌ وَلا تَجَس'َسُوا وَلا يَغ'تَب' بَع'ضُكُ...' بَع'ضًا أَيُحِب'ُ أَحَدُكُ...' أَن' يَأ'كُلَ لَح'...َ أَخِيهِ ...َي'تًا فَكَرِه'تُ...ُوهُ وَات'َقُوا الل'َهَ إِن'َ الل'َهَ تَو'َابٌ رَحِي...ٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)

Persyaratan ini diambil dari hadits di atas, (...ن رأى ...نك... ...نكرا), Manthuq (lafadz)nya menjelaskan bahwa pengingkaran berkaitan dengan penglihatan, Mafhumnya: Barangsiapa yang tidak melihat maka tidak wajib mengingkari.

4. Kemungkaran tersebut suatu yang disepakati, bukan permasalahan khilafiyah

Maksudnya: Jika permasalahan tersebut khilafiyah, yang berbeda pendapat ulama dalam menilainya maka tidak boleh bagi yang melihat untuk mengingkarinya, kecuali permasalahan yang khilaf di dalamnya sangat lemah yang tidak berarti sama sekali, maka ia wajib mengingkarinya, sebab tidak semua khilaf yang bisa diterima, kecuali khilaf yang memiliki sisi pandang yang jelas.

Sebagai contoh: Jika anda melihat seseorang memakan daging unta kemudian ia berdiri dan langsung shalat, jangan diingkari, sebab ini adalah permasalahan khilafiyah.

Di antara contoh permasalahan yang khilafiyah yang tidak berarti, dan sebagai sarana untuk berbuat suatu yang diharamkan: Nikah mut’ah (kawin kontrak) dan ini adalah suatu cara untuk menghalalkan zina, bahkan sebagian ulama mengatakan ini adalah perzinaan yang nyata. Dalam hal ini ulama Ahlus sunnah sepakat tentang haramnya nikah mut’ah kecuali kaum Syi’ah (Rafidhah), dan khilaf mereka di sini tidak ada harganya sama sekali.

Cahaya Sunnah
# Postingan: 17 Jan 2010 11:17
Balasan 


عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسل... ...وعظة وجلت ...نها القلوب وذرفت ...نها العيون , فقلنا يل رسول الله كأنها ...وعظة ...ودعٍ فأوصنا , قال - أوصيك... بتقوى الله عزوجل , والس...ع والطاعة وإن تأ...ر عليك عبد , فإنه ...ن يعش ...نك... فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليك... بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين ال...هدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياك... و...حدثات الأ...ور فإن كل بدعة ضلالة - رواه أبوداود والتر...ذي وقال : حديث حسن صحيح

Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah rhodiyallohu 'anhuma. ia berkata : “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran". kami bertanya ,"Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat" Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid'ah itu sesat." (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
[Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676]

wahabi bidah
# Postingan: 18 Jan 2010 05:59
Balasan 


KESESATAN HUKUM YANG MENGHARUSKAN NAMA ALLAH DIPERGUNAKAN OLEH ORANG KAFIR KRISTIAN DALAM DAKYAH MEREKA

Terbaca beberapa tulisan Wahhabi toghut, saya amat kesal dan sedih. Dari sudut lain Jika dilihat mantan Mufti yang “berkepala besar tetapi berotak kecil” membawa hujah dusta memenangkan agama Kristian waktu yang sama suka mengkafirkan ulama Islam dan menyamakan Allah dengan makhluk serta sering memomokkan dengan membid’ah amalan umat Islam yang ada dalil. Sedangkan dalam Islam Allah tidak menyerupai makhlukNya, Allah tidak memerlukan tempat dan tidak harus mengkafirkan orang Islam tanpa hak.

Pabila membicara mengenai Allah, tauhid dan akidah sepastinya ayat Quran yang perlu dijadikan keutaamaan sebagai rujukan dalam hal ini adalah surah Al-Ikhlas. Dalam kebanyakan kitab Tafsir al-Quran apabila mentafsirkan surah Al-Ikhlas mereka akan menyatakan riwayat sahih yang menceritakan asbab nuzul iaitu sebab diturunkan ayat tersebut. Sebab turun surah al-Ikhlas adalah apabila orang beragama Yahudi dan beragam Kristian kafir datang kepada nabi Muhammad lantas menyatakan: “Wahai Muhammad! Beritahu kami mengenai Tuhan yang kamu sembah? Maka kemudian turunlah surah Al-Ikhlas tersebut yang bererti: “Katakanlah bahawa Allah itu Esa, Allah lah yang diperlukan oleh selainNya, (Allah) tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan (Allah) tidak menyerupai sesuatupun”.

Saya (Abu Syafiq) menyatakan: Jelas! dalam merenung sebab turun surah Al-Ikhlas ini menunjukkan Islam menyangkal dan menolak definisi ‘tuhan’ yang dita’rifkan oleh agama Yahudi dan Kristian. Ini kerana agama Yahudi dan Kristian mendefinisikan sembahan mereka atau ‘tuhan’ mereka atau ‘god’ mereka sebagai beranak dan menyerupai makhluk kemudian mereka menamakan ia pula sebagai Allah atau mengaitkan dengan nama Allah kononnya. Dalam kes mereka menamakan sembahan mereka yang beranak dan menyerupai makhluk itu sebagai bernama ALLAH tidak langsung boleh menetapkan bahawa mereka beriman kepada Allah yang sebenar. Sesungguhnya agama Yahudi dan agam Kristian TIDAK beriman kepada Allah bahkan agama Kristian dan Yahudi kufur kepada Allah dan langsung tidak berimana kepada Allah itu sendiri. Allah berfirman mengenai agama Yahudi dan Kristian: “ Sesungguhnya mereka yang kufur kepada Allah dan (kufur) kepada RasulNya”.Surah An-Nisa’ ayat 150.

Fokus! Allah menyatakan agama Kristian dan Yahudi itu KUFUR kepada Allah dan ayat 29 surah At-Taubah pula menjelaskan secara terang lagi bersuluh bahawa agama Kristian dan Yahudi TIDAK beriman kepada Allah sama sekali.

Firman Allah: “Perangilah (agama Yahudi&Kristian) yang mana mereka TIDAK BERIMAN kepada Allah…”.
Allah secara jelas menyatakan agama Yahudi, Kristian dan musyrik TIDAK beriman kepada Allah, malangnya wujud kekerapan teks mantan mufti “berkepala besar berotak kecik” yang mendakwa agama Yahudi, agama Krsitian dan semua agama kufur itu BERIMAN kepada Allah pula. Subhanallah! Allah sendiri kata mereka (agama Yahudi,Kristian&Musyrik) tidak beriman kepada Allah tiba-tiba puak Wahhabi toghut pula kata mereka beriman kepada Allah.
Allah kata tidak, mereka (wahhabi) pula seolah lawan firman Allah. Inilah agama Wahabi toghut yang setaraf dengan sahabat mereka dan mendahulukan sahabat mereka melebihi dan mendahului firman Allah.

Manakala firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat 63 tidak langsung menyatakan agama Kristian atau agama Yahudi itu beriman kepada Allah. Yang terdapat dalam ayat tersebut adalah ungkapan pengakuan lidah SEBAHAGIAN orang musyrikin dizaman Nabi yang menyatakan Allah sebagai yang menurunkan hujan dan menghidupkan tumbuhan SETELAH dijatuhkan hujjah oleh Nabi Muhammad keatas mereka. Dan ayat tersebut tidak langsung boleh dijadikan keharusan agama Kristian mempergunaka nama Allah dalam dakyah mereka kerana amat berbeza antara situasi dalam ayat tersebut dengan dakyah agama Kristian yang bertujuan menyesatkan umat Islam.

Dalam ayat tersebut mereka (musyrikin) ditanya oleh Nabi setelah dijatuhkan hujjah lantas mereka menjawab “Allah!” Jawapan mereka dengan menyebut perkataan “Allah” tidak bertujuan oleh mereka sendiri sebagai dakyah untuk menyesatkan umat Islam tetapi kerana pengakuan mereka itu disebabkan mereka telah kalah dengan hujjah nabi Muhammad yang amat diterima oleh segenap yang mempunyai akal .
Bahkan Allah sendiri menyatakan walaupun mereka menyebut dan mengakui dengan lidah mereka bahawa Allah lah yang mencipta mereka, Allah tetap menyatakan mereka itu TIDAK beriman.

Allah berfirman yang bermaksud: Dan sesungguhnya, jika kamu (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka?" sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah!". (jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan? Dan (Dia lah Tuhan Yang mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum YANG TIDAK MAHU BERIMAN!" (al-Zukhruf : 87-88).

Ini berbeza dengan agama Kristian sekarang yang mempergunakan nama Allah sepastinya untuk menyesatkan umat Islam. Dan ketahuilah bahawa bukan hanya menyatakan atau menyebut “Allah” maka seseorang itu dikira beriman kepada Allah. Ini berbeda dengan agama Wahhabi yang mendakwa bahawa sesiapa yang menyebut “Allah” maka dia dikira beriman kepada Allah termasuk agama Yahudi & kristian.Inilah Liberal!.

Saya mengajak semua merujuk kembali firman Allah ta’ala yang menceritakan Ahli Kitab yang beragama Yahudi dan KRISTIAN itu TIDAK LANGSUNG BERIMAN KEPADA ALLAH ITU SENDIRI ( Surah At-Taubah ayat 26) secara jelas Allah menyatakan mereka TIDAK beriman kepada Allah.

“ KETAHUILAH WAHAI SEMUA BAHAWA AGAMA KRISTIAN PERGUNAKAN NAMA ALLAH BERTUJUAN MENYESATKAN AKIDAH ISLAM DAN BERDAKYAH AGAR UMAT ISLAM MASUK KRISTIAN ”

Jika direnung apakah tujuan nama Allah itu digunakan oleh agama Kristian? Sepastinya mereka ingin memantapkan akidah kufur mereka DAN mendakyah agar umat Islam masuk Kristian. Itulah tujuan utama nama Allah dipakai oleh kafir Kristian. Perlu diketahui umum juga bahawa agama Kristian dan agama Yahudi bukanlah agama samawi kerana agama samawi HANYALAH Islam dan Nabi Musa serta Nabi Isa beragama Islam dan TIDAK beragama Yahudi mahupun Kristian Nasoro.

Sekarang kita tahu bahawa agama Kristian mempergunakan nama Allah untuk dan bertujuan menyesatkan dan memasukkan umat Islam ke dalam agama mereka maka secara terang tujuan Kristian Kafir adalah jahat! Saya (Abu Syafiq) tidak mahu membicarakan mengenai perlembagaan negara berkaitan agama Islam dalam hal ini kerana dalil yang saya nyatakan hanya dari firman Allah sumber utama Islam dan ia memadai dan kepada bukan Islam untuk menghormati perlembagaan tersebut.

Dalam hukum fiqh pun (mazhab empat Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafie’) yang juga diguna pakai hukum ini oleh yang didewakan sebagai seolah ma’sum bertaraf nabi oleh ajaran Wahhabi iaitu Ibnu Taimiah sendiri, Muhammad bin Abdul Wahhab, bin Baz dan selainnya bersetuju bahawa SEKIRANNYA SESUATU ITU DIKETAHUI IA BERTUJUAN MEMPERGUNAKANNYA UNTUK MEMUDARATKAN ORANG LAIN ATAU ORANG ISLAM MAKA IA ADALAH HARAM. Contoh sekirannya seorang pemilik anggur memberI atau menjual anggurnya kepada seorang yang dia tahu secara yakin orang yang diberi itu mahu membuat arak dan meminum arak tersebut yang diperbuat dari anggur yang diberi itu maka HARAM kepada si memberi itu memberi anggurnya kerana dia telahpun mengetahui dengan yakin anggur tersebut ingin diperbuat benda yang haram seperti juga jika seseorang itu ingin memberi naskah al-Quran kepada seseorang yang dia ketahui orang itu akan kencing dan berak serta menghina naskhah al-Quran tersebut maka diharamkan memberinya kerana dia tahu dan yakin orang itu bertujuan buruk.

Nah! Maka setelah kita semua menyakini bahawa nama Allah yang dipergunakan oleh Kristian Katolik itu bertujuan menyesatkan umat Islam, bertujuan memantapkan dan menguatkan gerakan akidah kufur mereka sudah pasti haram kita memberikan nama “Allah” itu diperkotak-katikkan oleh Kristian kafir yang tidak beriman kepada Allah.

Manakala mereka yang mengharuskan pengunaaan dan mengharuskan nama Allah disalahgunakan dan yang mengharuskan nama Allah itu disalah ertikan untuk dan bertujuan menyesatkan dan memesongkan akidah umat Islam maka orang itu bukan hanya sesat bahkan terpesong akidahnya kerana mengharuskan penghinaan kepada nama Allah adalah sesuatu pembatalan iman tanpa ada ikhtilaf dikalangan ilmuan Islam berdalilkan Firman Allah:
أبالله وآياته ورسوله كنت... تستهزؤن لا تعتذروا قد كفرت... بعد إي...انك...
Surah At-Taubah ayat 65 yang bermaksud: “Adakah dengan Allah (termasuk nama Allah), ayat-ayat Allah dan Rasul Allah kamu menghina mempersenda?!, tiada keuzuran bagi kamu maka dengan itu kamu semua telah KUFUR SETELAH MANA PADA AWALNYA KAMU BERIMAN”.

www.abu-syafiq.blogspot.com

wahabi bidah
# Postingan: 18 Jan 2010 06:04
Balasan 


TAUHID 3 SERANGKAI?- Bid'ah Wahabi Lagi?


Tauhid tiga serangkai disyariat dalam Islam?

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

MINGGU ini kita menyambung kembali persoalan tauhid tiga serangkai yang telah pun diberikan lontaran awal pada dua minggu lepas. Sebelum soalan pertama dilontarkan mengenai tauhid tiga serangkai atau tauhid tiga bahagian yang diformulasikan atau direka oleh Ibnu Taimiyyah ini,

sebaiknya kita melihat dahulu secara ringkas definisi yang diberikan kepada ketiga-tiga tauhid ini.

Tauhid rububiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada ciptaan, pemerintahan, takdir, pentadbiran dan perbuatan-Nya serta dalam memberikan suatu kesan.

Manakala tauhid uluhiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah dalam hal peribadatan tanpa mengambil seorang manusia pun bersama Allah sebagai sembahan.

Tauhid Asma' dan Sifat pula didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada apa yang dinamakan dan disifatkan dengan diri-Nya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab-Nya atau yang didapati daripada lidah nabi-Nya yang telah menetapkan dengan apa yang telah ditetapkan bagi diri-Nya.

Dalam membincangkan pembahagian ini, maka perkara utama yang perlu dipersoalkan dan bincangkan ialah adakah pembahagian ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Adakah pembahagian ini merupakan perkara yang disyariatkan ataupun perkara baru yang dicipta (bidaah)?

Persoalan ini, mengandungi beberapa jawapan:

Jawapan Pertama

Ibnu Taimiyyah yang merupakan pereka pembahagian tauhid ini mendakwa dirinya bermazhab Hanbali.

Namun Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a. sendiri, yang dikatakan menjadi tempat sandaran bagi orang-orang yang melakukan pembahagian tauhid bidaah ini, tidak pernah menyatakan bahawa tauhid itu mempunyai beberapa bahagian; tauhid rububiah, tauhid uluhiah dan tauhid asma' dan sifat.

Beliau juga tidak pernah menyatakan bahawa sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah, tidak dikira makrifatnya tentang tauhid rububiah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin.

Sesungguhnya akidah Imam Ahmad ibn Hanbal r.a telah disusun di dalam kitab-kitab karangan pengikutnya. Misalnya, di dalam kitab biografinya yang ditulis oleh Ibnu Jauzi dan lain-lainnya, tidak terdapat langsung pembahagian tauhid rekaan ini. Maka dari manakah Ibnu Taimiyyah mengambil tauhid ini?

Jawapan Kedua

Tidak berkata walau seorang daripada Sahabat-sahabat Nabi r.a: "Sesungguhnya tauhid itu ialah tauhid rububiah dan tauhid uluhiah, dan sekiranya seseorang tidak mengetahui tentang tauhid uluhiah, maka tidak dikira makrifahnya tentang tauhid rububiyyah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin".

Justeru, saya mencabar kepada setiap orang yang mempunyai ilmu yang mendalam, supaya menaqalkan kepada kami pembahagian yang diada-adakan ini daripada sahabat-sahabat Nabi r.a, sekalipun dengan mengemukakan satu riwayat yang lemah.

Jawapan Ketiga

Tidak terdapat dalam sunnah Nabi SAW yang luas dan menjadi penjelas kepada kitab Allah, sama ada dalam kitab-kitab hadis sahih, sunan-sunan, musnad-musnad dan mu'jam-mu'jam yang menyebut bahawa Nabi SAW pernah bersabda dan mengajar sahabat-sahabatnya, bahawa tauhid itu terbahagi kepada tauhid uluhiah dan juga rububiah yang telah diketahui oleh orang musyrik.

Sekiranya berkumpul jin dan manusia bersama-sama mereka untuk menetapkan bahawa pembahagian ini adalah datang daripada Nabi SAW dengan isnadnya, sekalipun dengan isnad yang lemah, nescaya mereka tidak akan mampu untuk mendatangkannya walaupun dengan satu jalan.

Jawapan Keempat

Telah tercatat dalam sunnah yang banyak, bahawa dalam dakwah Rasulullah SAW mengajak manusia kepada Allah, Baginda SAW menyeru mereka ke arah penyaksian kalimah syahadah: Tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah. Baginda SAW juga mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala.

Di antara hadis yang paling masyhur menyebut tentang perkara ini ialah hadis Muaz ibnu Jabal r.a. Ketika beliau diutuskan oleh Nabi SAW ke Yaman, Baginda SAW bersabda kepadanya: Serulah mereka kepada penyaksian "Bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah". Sekiranya mereka mentaatinya, maka hendaklah kamu khabarkan kepada mereka bahawa diwajibkan ke atas mereka solat lima waktu sehari semalam. (riwayat al-Bukhari dalam Sahihnya)

Diriwayatkan oleh pengarang kitab Sunan dan Ibnu Hibban, bahawa seorang Arab Badawi memberitahu Rasulullah SAW bahawa dia telah melihat anak bulan. Lantas Rasulullah SAW memerintahkan supaya berpuasa dan Baginda SAW tidak menyoalnya melainkan tentang pengakuannya terhadap kalimah syahadah. (diriwayatkan oleh Abu Daud, al Nasaei, al Tirmizi dan lain-lain)

Sekiranya tauhid itu terbahagi kepada tiga bahagian sebagaimana yang mereka perkatakan, maka sudah tentulah Nabi SAW menyeru sekelian manusia kepada tauhid uluhiah yang tidak mereka ketahui dan bukannya tauhid rububiah kerana mereka telah mengetahuinya.

Demikian juga, perlulah Baginda SAW bersabda kepada Muaz r.a, "Serulah mereka kepada tauhid uluhiah," dan Baginda SAW bertanya terlebih dahulu kepada orang Arab Badawi yang melihat anak bulan Ramadan, "Adakah kamu mengetahui tentang tauhid uluhiah dan perbezaan di antara tauhid ini dengan tauhid rububiah, dan adakah kamu mengetahui tauhid asma' dan sifat?"

Jawapan Kelima

Di dalam kitab Allah yang ternyata tidak dicemari dengan kebatilan, tidak membezakan di antara tauhid uluhiah dan tauhid rububiah.

Begitu juga tidak dikatakan kepada mereka: Sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah tidak dikira imannya, bahkan dia adalah lebih kafir daripada Firaun dan Haman. Tetapi Allah SWT memerintahkan dengan kalimah tauhid secara mutlak sebagaimana firman Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam surah Muhammad ayat 19: Ketahuilah, bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah. Begitu jugalah dengan keseluruhan ayat tauhid yang disebut di dalam al-Quran.

Sekiranya kamu kehendaki, maka bacalah surah al-Ikhlas yang menyamai sepertiga al-Quran. Adakah kamu mendapati di dalamnya ayat yang membezakan di antara uluhiah dan rububiah sebagaimana yang mereka sangkakan?

Jawapan Keenam

Melalui pembahagian yang direka ini, memberi kefahaman kepada kita, seolah-olah Allah masih belum lagi menyempurnakan agama-Nya. Kemudian, datang seseorang yang kononnya untuk menyempurnakan agama Allah yang masih lagi mempunyai kekurangan dan menjelaskan tentang tauhid dan pembahagiannya kepada manusia pada kurun ke-7 Hijrah.

Pada kurun ini, lahirnya pembahagian tauhid uluhiah, rububiah, asma' dan sifat yang dicetuskan oleh Ibnu Taimiyyah (661- 724 H). Seolah-olah semua umat tidak mengetahui tentang apa yang diperkenalkan oleh pemuka-pemuka pembahagian tauhid rekaan ini.

Selepas kita mengetahui jawapan daripada soalan pertama ini, yakinlah kita dengan sempurna bahawa tauhid ini tidak mempunyai sumber yang sah daripada al-Quran dan hadis.

Ia menunjukkan bahawa pembahagian ini hanyalah rekaan semata-mata. Persoalan kedua akan dikemukakan pada minggu hadapan, insya-Allah.

Dipetik dari UTUSAN:
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt =1130&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_0 2.htm




Mengapa tauhid tiga serangkai?

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

SEJAK kemasukan Islam ke Tanah Melayu, umat Islam di negara ini kuat berpegang dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang disusun atau diformulasikan oleh dua tokoh terbesar dalam bidang ilmu tauhid iaitu Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a

dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a. Perkara ini telah ditegaskan oleh ulama ulung Tanah Melayu, al Allamah Sheikh Abdullah Fahim.

Beliau juga menyatakan bahawa ia telah menjadi ijmak ulama di Tanah Melayu.

Antara kenyataannya berbunyi: “Tuan-tuan sedia maklum beratus-ratus tahun bahawa orang bangsa Melayu seMelaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas; awam-awam, kadi-kadi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga Raja-raja sekalian mereka itu bermazhab dengan mazhab al Imam al Syafi’e r.a ijma’an (ijmak), tiada seorang pun yang bermazhab lain daripada mazhab Syafi’e. Usuluddin atas perjalanan Abi al Hasan al Asy’ari r.a. Diambilkan dari Syuruh dan Hawasyi Ummu al Barahin dan Jauharah dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu”.

Di dalam kitab ini, pendekatan Sifat 20 digunakan bagi memahami permasalahan ketuhanan. Pendekatan ini juga diguna pakai di kebanyakan negara-negara Islam yang berpegang dengan akidah ASWJ seperti di Mesir, Syria dan Morocco.

Ia juga menjadi silibus di kebanyakan universiti di dunia Islam termasuklah universiti Islam terulung di dunia, Universiti al Azhar al Syarif.

Sejak doktrin ini diguna pakai di negara kita, kita berupaya mengecapi nikmat keamanan beragama dan ketamadunan negara. Tidak seperti negara-negara Islam lain yang memakai acuan yang bercanggah dengannya seperti aliran fahaman Syiah, Muktazilah, Musyabbihah dan sebagainya.

Tidak timbul di dalam doktrin Sifat 20 ini soal-soal kepincangan dan percanggahannya dengan akidah ASWJ yang tulen.

Namun, setelah ratusan tahun pendekatan ini digunakan tanpa sebarang masalah dalam menjaga kemurnian tauhid dan akidah umat Islam, timbul desas-desus yang mengatakan bahawa ia diambil dari Falsafah Greek.

Malah, tidak lagi sesuai dijadikan sebagai pendekatan dalam pembelajaran ilmu Tauhid. Sementelahan itu juga, pendekatan tauhid tiga serangkai yang dirumuskan oleh Ibnu Taimiyyah menjadi pengganti Doktrin Sifat 20.

Usaha-usaha untuk menukar pendekatan tauhid tiga serangkai ini dalam kurikulum pendidikan negara juga nampaknya begitu pantas dilakukan.
Lebih pantas! Dapatkan 4G P1 W1MAX

Persoalannya, kenapakah tiba-tiba pendekatan ini pula yang perlu dipilih sebagai pengajaran ilmu tauhid di negara kita? Adakah pendekatan Sifat 20 mengandungi unsur-unsur yang mengelirukan atau terseleweng dari iktikad ASWJ?

Adakah pembahagian tauhid tiga serangkai ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Apakah kita pasrah sahaja dengan pendapat yang mengatakan doktrin Sifat 20 yang kita pegang dan pakai selama ini bukan tauh

wahabi bidah
# Postingan: 18 Jan 2010 06:14
Balasan 


WAHHABI PALSUKAN KITAB IMAM NAWAWI-berbukti
WAHHABI MUNGKIN SANGGUP MENOKOK TAMBAH AYAT ALQURAN DAN MEREKA-REKA HADITH NABI DENGAN TEKS DARI NAFSU MEREKA SENDIRI. PERBUATAN TERKUTUK INI DITOLAK OLEH ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH DEK WAHHABI TELAH BANYAK MENGUBAH TEKS BUKU-BUKU DAN KITAB-KITAB PARA ULAMA ANTARANYA KITAB SYARAH KEPADA TADSIR JALALAIN DAN KITAB-KITAB LAIN LAGI ANTARANYA KITAB YANG TERKENAL KITAB AL-AZKAR KARANGAN IMAM NAWAWI ISI KANDUNGANNYA TELAH DIUBAH DENGAN BANYAK DAN JAHAT SEKALI OLEH WAHHABI.

lihat kitab yang dipalsukan

http://4.bp.blogspot.com/_rRS10g6ei4o/SyhuSYXUQpI/ AAAAAAAABQk/X_vUL-m3MgY/s1600-h/nawwy.jpg

wahabi bidah
# Postingan: 18 Jan 2010 06:19
Balasan 


AWASI WAHHABI : GOLONGAN MUJASSIMAH MODEN?

(Satu Penjelasan berdasarkan Hukum Para Ulama)

Oleh: abu_syafiq (012-2850578)


Perlu diketahui bahawa golongan yang paling banyak kesesatan pada hari ini adalah Mujassimah (Yang menyatakan Allah itu berjisim) dan Musyabbihah (Yang menyatakan Allah itu menyerupai makhluk). Golongan Wahhabi adalah mereka yang paling jelas menyamakankan Allah dengan makhluk. Dan ketahuilah bahawa Musyabbihah dan Mujassimah adalah KAFIR.


Oleh kerana golongan sesat ini menyebarkan aqidah sesat mereka kepada orang awam termasuk anak-anak orang islam.
Maka wajiblah kepada kita orang islam yang beraqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah tidak senyap dari mengawasi golongan sesat ini.

Diceritakan bahawa tokey Wahhabi bernama Abdullah bin Hasan cucu kepada Muhammad Bin Abdul Wahhab banyak menyuarakan aqidah sesatnya di Makkah sejak sebelum 70 tahun lalu dengan mengatakan dalam keadaan dia turun dari tangga, katanya :
“ Allahu Yanzil Kanuzuli Haza ” kata-kata kufur yang bermaksud : “ Allah turun seprtimana aku turun ini ”.

Kenyataan kufur tersebut telah didengar oleh ramai para ulama termasuk Syeikh Ali Bin Abdul Rahman As-Somaly yang tinggal dan mengajar di Makkah.

Maka tidak harus bagi kita umat islam senyap membisu tidak mengawasi orang islam dari ajaran sesat Wahhabi ini. Adakah mengingkari kemungkaran dianggap memecahbelahkan umat islam? Tidak sama sekali!.

Mengkafirkan orang yang amat jelas kekafirannya bukanlah memecahbelahkan saf orang islam, bahkan ianya merupakan penjelasan kebenaran kerana bagaimana kita orang islam berkesedudukan dengan ajaran sesat Wahhabi yang mengkafirkan kita umat islam dan menghalalkan darah seluruh umat islam?!.
PRINSIP WAHHABI


Golongan Wahhabi menganggap sesiapa yang tidak menuruti aqidah mereka yang menjisimkan Allah dan menyamakan Allah dengan makhlukNya maka orang itu dikira kafir dan halal darahnya. Lihat sahaja prinsip utama Wahhabi tesebut seperti yang tertera dalam kitab utama mereka mengatakan :

“ Bunuhlah ahli sufi yang soleh sebelum kamu membunuh yahudi dan majusi ”.

Diantara Wahhabi yang menjelaskan prinsip utama wahhabi adalah “Sesiapa yang tidak mengatakan Allah Duduk dan tidak menuruti aqidah mereka yang menjisimkan Allah dan menyamakan Allah dengan makhlukNya maka orang itu dikira kafir dan halal darahnya ” yang menyatakan prinsip Wahhabi adalah sedemikian seorang ulama Wahhabi bernama Ali bin Muhammad bin Sinan seorang pengajar salah sebuah universiti di Madinah dan pengarang kitab Almajmuk Almufid Min Aqidah At-tauhid.
ULAMA MAZHAB HAMBALI MENJELASKAN PERIHAL WAHHABI


Mufti Mekah bernama Muhammad Bin Abdullah Bin Hamid Al-Hambali An-Najdi menyatakan didalam kitabnya berjudul As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroih Al-Hanabilah.

Dalam kitab tersebut Mufti Mekkah menjelaskan latar belakang 800 orang para fuqoho’ dari mazhab Hambali. Diantara yang diceritakan oleh Mufti mengenai seorang alim mazhab Hambali bernama Abdul Wahhab Bin Sulaiman yang merupakan bapa kepada seorang pengasas ajaran sesat Wahhabi bernama Muhammad Bin Abdul Wahhab.

Mufti menceritakan bahawa bapa Muhammad Bin Abdul Wahhab tidak meredhoi anaknya itu kerana pengasas Wahhabi itu mengkafirkan sesiapa sahaja yang tidak sependapat dengannya bahkan pengasas Wahhabi tersebut menghalal pembunuhan umat islam yang tidak mengikutnya. Sila lihat pada kitab tersebut dimukasurat 276 cetakan pertama di Riyadh.
WAHHABI MEMBUNUH 3000 UMAT ISLAM DI JORDAN

Telah berlaku satu peristiwa yang amat menyayathati umat islam pada 1920an iaitu pembunuhan Wahhabi terhadap umat islam di Timur Jordan. Disitu Wahhabi telah membunuh bukan 3 orang tetapi 3000 orang islam yang tidak mengikut mereka dengan menyembelih umat islam seperti kambing dalam pada penyembelihan itu Wahhabi mengatakan: “Ayuh kita bunuh kafir ini kerana tak ikut kita!”.
Kisah pembunuhan Wahhabi terhadap 3000 umat islam di Timur Jordan ini tertera dikebanyakan perpustakaan di Jordan.
WAHHABI : MUJASSIMAH
(Mujassimah Adalah Golongan Kafir Disisi Seluruh Ulama Islam)

Wahhabi adalah kaum Mujassimah yang menjisimkan Allah. Mujassimah adalah kafir kerana Imam Syafie rodhiyallahu ‘anhu menyatakan :
“ Al-Mujassim Kafir ” kata-kata Imam Syafie itu bermaksud : “ Mujassim (Yang mengatakan Allah itu jisim seperti Wahhabi) adalah kafir ”.

Kenyataan Imam Syafie yang mengkafirkan Mujassimah tersebut diriwayatkan oleh Imam Suyuti dalam kitabnya Al-Asbah Wa An-Nazoir mukasurat 488 cetakan Darul Kutub Ilmiah.

Mari kita lihat kenyataan Imam Ahmad Bin Hambal dan para ulama mazhab Hambali yang mempersetujui kenyataan Imam Ahmad mengatakan :
“ Man Qola Allahu Jismun Faqod Kafar Wakaza Man Qola Allahu Jismun La Kal Ajsam ” kenyataan Imam Ahmad bermaksud : “ Sesiapa yang mengatakan Allah berjisim maka dia telah kafir, begitu juga kafirlah yang mengatakan Allah itu berjisim tapi tak serupa dengan jisim-jisim ”. Lihat Sohibul Khisol diantara ulama mazhab Hambali yang masyhur.

Seorang ulama mazhab Hambali terkenal bernama Muhammad Bin Badruddin Bin Balban Ad-Dimasyqi Al-Hambali dalam kitabnya berjudul Muktasor Al-Ifadat mukasurat 490 menyatakan :
“ Allah tidak menyerupai sesuatu dan sesuatupun tidak menyerupai Allah, sesiapa menyamakan Allah dengan sesuatu maka dia KAFIR seperti mereka yang menyatakan Allah itu berjisim, begitu jugak kafir yang menyatakan Allah itu berjisim tapi tak seperti jisim-jisim ”.

Begitu juga Imam Malik dan Imam Abu Hanifah jelas mengkafirkan golongan Mujassimah.
Mari kita lihat apa yang telah dinukilkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya berjudul Al-Minhaj Al-Qowim Syarh Muqaddimah Al-Hadhromiyah :
“ Ketahuilah bahawa Al-Qorrofi dan selainnya telah menukilkan dari Imam Syafie, Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah rodhiyallahu ‘anhum bahawa mereka semua mengkafirkan mujassimah ”.
WAHHABI MENYEMBAH JISIM YANG BERBETIS

Wahhabi adalah golongan yang amat malang. Ulama islam mengharap sangat sekiranya golongan Wahhabi ini diberikan pemahaman ayat Allah “Laisa Kamithilihi Syai” dalam surah As-Syura ayat 11 yang bermaksud “ Tiada sesuatupu menyerupaiNya”.
Puluhan ulama Wahhabi menyebarkan perkara kufur dengan mengatakan :
“ Allah meletakkan kakiNya yang berbetis kedalam api neraka kemudian mengatakan ada lagi ke? ”.
Lihatlah betapa sesatnya mereka!


WAHHABI MENGATAKAN : NABI MUHAMMAD ADALAH PATUNG BERHALA.

Tidak cukup bagi Wahhabi mengkafirkan umat islam dan menghalalkan darah orang islam yang tidak mengikut mereka.

Wahhabi sejak 8 tahun dimusim haji menyatakan prinsip mereka adalah ¾ orang islam sekarang adalah kafir dan halal darah mereka.Wahhabi juga mengatakan :
“ Kami menjual tasbih ( yang dianggap bid’ah sesat oleh Wahhabi) hanya kepada orang musyrik di tanah haram ini ”. Sudah pasti ramai diantara kita membeli tasbih disana.


Seorang ulama Wahhabi bernama Abu Bakar Al-Jajairy menyatakan dalam Masjid Nabawi di Madinah pada tahun 1993M dengan katanya : “Aku bersumpah bahawa islam tidak akan bangkit selagi patung berhala ini (sonam) tidak dikeluarkan dari masjid ini” sambil tangannya mengarah kepada maqam Nabi Muhammad.

Apakah dosa Nabi Muhammad kepada ulama Wahhabi ini sehingga Wahhabi menamakan Nabi Muhammad itu sebagai berhala?!.
PENUTUP UNTUK KALI INI.

Sesetengah orang menganggap bahawa perbuatan menjelaskan kesesatan dan kekafiran Wahhabi ini adalah suatu yang memecahbelah saf umat islam.

Saudara islam sekalian, ketahuilah! Sekiranya anda memahami betapa bahaya lagi sesatnya ajaran Wahhabi ini maka anda akan lebih sensitif kerana kejahatan dan kesesatan Wahhabi ini amat bahaya.

Kepada yang mengatakan :bagaimana kita menyesatkan orng yang mengucap dua kalimah syahadah?!

Ketahuilah! Walaupun seseorang itu mengucap dua kalimah syahadah tapi aqidahnya masih kafir lagi sesat dan dia tidak mengenal Tuhannya dengan mengatakan :
“Allah itu berjisim” maka dia bukan islam.

Imam Abu Hasan Al-Asya’ry menyatakan dalam kitabnya berjudul An-Nawadir :
“ Al-Mujassim Jahil Birobbihi Fahuwa Kafirun Birobbihi” kenyataan Imam Abu Hasan Al-Asy’ary tersebut bermaksud :
“ Mujassim ( yang mengatakan Allah itu berjisim) adalah jahil mengenai Tuhannya, maka dia dikira kafir dengan Tuhannya ”.

Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (wafat 725) dalam kitab Najmul Muhtadi menukilkan dari Al-Qodi Husain bahawa Imam Syafie menyatakan :
“ Sesiapa beranggapan Allah duduk diatas arasy maka dia KAFIR ”.

Mari kita lihat pandangan ulama Hanafi.

Syeikh Kamal Bin Al-Humam Al-Hanafi menyatakan dalam kitab mazhab Hanafi berjudul Fathul Qadir juzuk 1 mukasurat 403 pada Bab Al-Imamah :
“ Sesiapa yang mengatakan Allah itu jisim ataupun Allah itu jisim tapi tak serupa dengan jisim-jisim maka dia telah KAFIR ( ini kerana jisim bukanlah sifat Allah )”.

Maka Wahhabi adalah Mujassimah yang beranggapan bahawa Allah itu jisim duduk diatas arasy.
Tidak harus bagi kita senyap dari mempertahankan aqidah islam dan menjelaskan kesesatan ajaran sesat!.

Wassalam.

wahabi bidah
# Postingan: 18 Jan 2010 06:29
Balasan 


PENGASAS AJARAN WAHHABI MENGKAFIRKAN ULAMA ISLAM (Pendedahan Eksklusif Berbukti)
Disediakan oleh: Abu Syafiq (006-012-2850578)

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB PENGASAS AGAMA WAHHABI SECARA JELAS MENGKAFIRKAN ULAMA ISLAM DAN MENGKAFIRKAN DIRINYA SENDIRI. SUMBER & RUJUKAN DIPETIK DARI KITAB KARANGAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB SENDIRI.






NAMA KITAB: MUALLAFAAT SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB.

CETAKAN: JAMI'AH UMMUL QURA MAKKAH AL-MUKARRAMAH.

BAHAGIAN KELIMA: AR-RASAIL ASY-SYAKHSIYYAH.

MUKASURAT: 186-187.

TEKS RASMI KENYATAAN RISALAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB SENDIRI:

" DARIPADA MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB KEPADA ORANG ISLAM YANG SAMPAI KEPADANYA KITAB AKU INI ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAH WABARAKATUH...

AKU MEMBERITAHU KEPADA KAMU SEMUA MENGENAI DIRIKU DAN DEMI ALLAH YANG TIADA TUHAN MELAINKAN DIA, BAHAWA SESUNGGUHNYA AKU TELAH MENUNTUT ILMU DAN AKU PERCAYA BAHAWA ADA YANG MENGANGGAP AKU MEMPUNYAI ILMU MA'RIFAH TETAPI KETAHUILAH SESUNGGUHNYA AKU SEBENARNYA PADA WAKTU ITU TIDAK MENGETAHUI LANGSUNG MAKNA LA ILAHA ILLALLAH (TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH),

DAN AKU TIDAK TAHU LANGSUNG MENGENAI AGAMA ISLAM SEBELUM INI BEGITU JUGA GURU-GURUKU TIDAK ADA SEORANG PUN DIKALANGAN MEREKA MENGETAHUI MAKNA LA ILAHA ILLALLAH (TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH).

BARANGSIAPA YANG MENDAKWA KONONNYA ULAMA MENGETAHUI MAKNA LA ILAHA ILLALLAH (TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH) ATAUPUN MENDAKWA ULAMA ITU MENGETAHUI MAKNA ISLAM SEBELUM WAKTU INI ATAUPUN MENDAKWA ULAMA ANTARA MEREKA MENGETAHUI MAKNA LA ILAHA ILLALLAH MAKA SESUNGGUHNYA ORANG ITU TELAH MENIPU DAN BERDUSTA ".

Rujuk scan kitab di atas sebagai bukti.

Fokuskan juga pada kenyataan Pengasas agama Wahhabi ini yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab (MAW) bagaimana dia mengkafirkan dirinya sendiri sebelum dia mendakwa diberi ma'rifah khas oleh Allah dan dia juga mengkafirkan tuan gurunya sendiri (antara yg didakwa tuan gurunya adalah ayahnya) dan mengkafirkan ulama-ulama islam sebelum ajarannya timbul.

Ketahuilah bahawa umat Islam sememangnya mengetahui makna La Ilaha Illallah tidak sepertimana yang didakwa oleh Pengasas agama Wahhabi ini (MAW) dan pengikutnya.

Nantikan lagi ratusan pendedahan eksklusif mengenai bahaya ajaran Wahhabi diblog Abu Syafiq.

Apapun saya tetap mendoakan untuk Wahhabi...
Semoga Allah memberi hidayah kepada Wahhabi yang masih hidup.

www.abu-syafiq.blogspot.com

diri
# Postingan: 18 Jan 2010 07:23
Balasan 


BRANI GAK YA,
YANG MASIH MENGANGGAP DIA SEBAGAI PEMBAHARU UNTUK MEMBACA KITAB DIATAS


terutama syafar

mono
# Postingan: 18 Jan 2010 09:09
Balasan 


Keempat: Metode dan cara beramar ma’ruf dan nahi mungkar terhadap penguasa atau pemimpin

Penguasa, pemerintah atau hakim adalah manusia biasa dan tidak ma’shum dari dosa, bisa benar, baik dan berlaku adil dan bisa juga bersalah dan berbuat zalim sebagaimana halnya manusia biasa, akan tetapi tidak semua orang berhak untuk mengingkari kemungkaran yang muncul dari penguasa dan tidak pula semua cara yang bisa digunakan dalam hal ini, oleh karena itu agama Islam -agama yang sempurna dan universal- telah menjelaskan metode dan cara yang digunakan untuk bernahi mungkar terhadap penguasa, jikalau metode ini tidak diindahkan dan digunakan dalam hal ini niscaya akan menimbulkan bermacam bentuk fitnah dan kerusakan yang sangat besar, berupa hilangnya keamanan dan kestabilan suatu negara, kehormatan dan martabat diri, darah yang bertumpahan dan nyawa yang melayang dll, dan sejarah perjalanan umat ini merupakan saksi nyata terhadap apa yang saya kemukakan.

Syaikhul Islam berkata, “Hampir tidak dikenal suatu golongan pun yang khuruj (angkat senjata dan kudeta) menghadapi penguasa kecuali kerusakan yang disebabkan oleh perbuatan mereka lebih besar dari kemungkaran yang dihapuskan.” (Minhaajussunnah, 3/390)

Imam Ibnu Qayyim berkata, “Barang siapa yang memperhatikan fitnah baik besar atau kecil yang menimpa Islam, niscaya ia akan mengetahui bahwa penyebabnya adalah tidak mengindahkan prinsip ini (tidak boleh kudeta dan angkat senjata terhadap penguasa) dan tidak sabar terhadap kemungkaran yang ingin dihapuskan, sehingga menyebabkan kemungkaran yang lebih besar.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 3/4)

Adapun metode yang digunakan dalam mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa atau pemerintah ada dua:

Pertama: Tidak boleh menggunakan kekerasan dan senjata.

قال الإ...ا... ابن النحاس (ت 814هت) في “تنبيه الغافلين” (ص 42) : ليس لأحد ...نعه بالقهر باليد، ولا أن يشهر عليه سلاحا، أو يج...ع عليه أعوانا، لأن في ذلك تحريكا للفتن، وتهييجا للشر، وإذهابا لهيبة السلطان ...ن قلوب الرعية، ورب...ا أدى ذلك إلى تجريه... على الخروج عليه، وتخريب البلاد، وغير ذلك ......ا لا يخفى

Imam Ibnu Nahas berkata: “Tidak boleh bagi seorang pun melarang penguasa dengan menggunakan kekerasan dan tangan serta tidak boleh angkat senjata, atau mengumpulkan masa, karena yang demikian itu menyebabkan fitnah dan menimbulkan kejahatan (kerusakan) serta hilangnya wibawa seorang pemimpin di hati masyarakat, dan terkadang bisa menyebabkan keberanian mereka untuk khuruj (kudeta) terhadapnya, dan rusak (hancur) nya suatu Negara, dan kerusakan lain yang nyata (tidak di pungkiri).”

Apa yang dikemukakan oleh Imam Ibnu An Nahhas di atas merupakan manhaj Ahlus Sunnah dalam mengingkari kemungkaran para penguasa, hal ini sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya memberikan nasihat kepada para pemimpin dan larangan untuk kudeta dan angkat senjata terhadap penguasa yang zalim, dan sesuai dengan apa yang dikatakan dan dipraktekkan oleh para ulama salafush sholeh.

عن أبي البختري قال: قيل لحذيفة: (ألا نأ...ر بال...عروف وننهى عن ال...نكر) قال: (إنه لحسن ولكن ليس ...ن السنة أن ترفع السلاح على إ...ا...ك). رواه ابن أبي شيبة في ...صنفه 7/508، رق... (37613) ونعي... بن ح...اد في الفتن 1/153، رق...: 388، وأبو ع...رو الداني في السنن الواردة في الفتن 2/391، ، وابن عدي في الكا...ل 2/407. والبيهقي في شعب الإي...ان 6/63

Dari Abu Al Bukhtury beliau berkata, dikatakan kepada Hudzaifah, “Tidakkah kita beramar ma’ruf dan nahi mungkar?” Beliau menjawab, “Ini sungguh sangat baik, tetapi bukanlah merupakan sunnah kamu mengangkat senjata (dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar) terhadap imam (penguasa atau pemerintah)mu.”

قال الحسن البصرى -رح...ه الله تعالى- عند...ا خرج خارجي بالبصرة: (ال...سكين رأى ...نكرا، فأنكره، فوقع في...ا هو أنكر ...نه). أخرجه الآجري في الشريعة 1/345 رق...: 48

Imam Hasan Al Bashri -rahimahullah- berkata, tatkala keluar salah seorang Khawarij di Bashrah-: “Miskin (kasihan)!!, ia melihat suatu kemungkaran, lalu mengingkarinya (dengan kekerasan), maka ia terjerumus ke dalam kemungkaran yang lebih besar.”

Kedua: Menasehati penguasa atau pemimpin dengan sembunyi.

قال الإ...ا... ابن النحاس (ت 814هـ) في “تنبيه الغافلين” (ص 55) ويختار الكلا... ...ع السلطان في الخلوة على الكلا... ...عه على رؤوس الأشهاد، بل يود لو كل...ه سرا ونصحه خفية ...ن غير ثالث له...ا).

Imam Ibnu An Nahhas berkata, “Dan ia memilih pembicaraan bersama penguasa di tempat yang tersembunyi dari pembicaraan di hadapan orang banyak, bahkan ia menginginkan kalau bisa berbicara dan menasihatinya dalam keadaan tersembunyi tanpa ada orang ketiga.”

وقال الإ...ا... الشوكاني: (ولكنه ينبغي ل...ن ظهر له غلط الإ...ا... في بعض ال...سائل أن يناصحه ولا يظهر الشناعة عليه على رؤوس الأشهاد) السيل الجرار 4/556

Imam Asy Syaukani berkata, “Akan tetapi mesti bagi orang yang melihat kesalahan imam dalam sebagian masalah agar menasihatinya, dan jangan memperlihatkan pengingkaran kepadanya di hadapan orang banyak.”

Apa yang dekemukakan oleh dua imam di atas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan nasihat para salafus sholeh:

قال رسول الله صلى الله عليه وسل...: (...ن أراد أن ينصح لسلطان بأ...ر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل ...نه فذاك، وإلا كان قد أدى الذي عليه له). رواه أح...د في ...سنده 3/403

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang ingin menasihati pemimpin dalam suatu urusan maka jangan ia perlihatkan secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang tangan dan membawanya menyendiri, jika dia menerima nasihatnya itulah yang diharapkan, dan jika tidak, ia telah menyampaikan apa yang wajib atasnya.”

عن سعيد ابن ج...هان، أنه جاء إلى عبد الله بن أبي أوفى -رضي الله عنه- وهو ...حجوب البصر فسل... عليه، فقال: ...ن أنت؟ قال أنا سعيد بن ج...هان، قال: (إن السلطان يظل... الناس ويفعل به... ويفعل به... قال: فتناول يدي فغ...زها غ...زة شديدة ث... قال: ويحك يا ابن ج...هان، عليك بالسواد الأعظ... -...رتين- إن كان السلطان يس...ع ...نك فأته في بيته فأخبره ب...ا تعل... فإن قبل ...نك وإلا فدعه فإنك لست بأعل... ...نه) رواه أح...د في ال...سند 4/382 وذكره الهيث...ي في ال...ج...ع وعزاه لأح...د والطبراني وقال: (ورجال أح...د ثقات).

Dari Sa’id Bin Jamhan, bahwa ia datang kepada Abdullah Bin Abi Aufa -radhiyallahu anhu- dalam keadaan ia tidak melihat kemudian mengucapkan salam kepadanya, lalu beliau menjawab sambil bertanya, “Anda siapa?” Dia menjawab, “Saya Sa’id Bin Jamhan” dan ia berkata, “Pemerintah telah berbuat zalim kepada masyarakat, ia melakukan kedzaliman terhadap mereka,” lalu ia memegang tanganku dan mencubitnya dengan kuat, kemudian berkata, “Celaka kamu wahai Ibnu Jamhan, berpeganglah kamu dengan sawadul a’zham (jama’ah yang banyak) -dia katakan dua kali-, jika pemerintah mendengar nasihatmu maka datangi ke rumahnya dan sampaikan kepadanya apa yang kamu ketahui, jika ia menerima nasihatmu (itu yang diharapkan), jika tidak, tinggalkan dia, karena kamu belum tentu lebih tahu daripadanya.”

وعن أسا...ة بن زيد -رضي الله عنه- أنه قيل له: ألا تدخل على عث...ان فتكل...ه؟ فقال: أترون أني لا أكل...ه إلا أس...عك...، والله لقد كل...ته في...ا بيني وبينه ...ا دون أن أفتتح أ...را لا أحب أن أكون أول ...ن فتحه) رواه البخاري [6/330 -فتح الباري] رق...: 6685 و...سل... (رق...: 2989)، واللفظ ل...سل....

Dari Usamah Bin Zaid -radhiyallahu anhu- dikatakan kepada beliau, “Apakah kamu tidak masuk (menemui) Utsman dan berbicara dengannya (menasihatinya)?” Beliau menjawab, “Apakah kalian menyangka saya tidak berbicara kepadanya (menasihatinya) kecuali harus saya beritahu kalian, demi Allah sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata, tanpa membuka permasalahan yang saya tidak ingin menjadi orang yang paling pertama membukanya.”

قال الشيخ الألباني رح...ه الله في تعليقه على “...ختصر صحيح ...سل...” ص 330 : (يعنى ال...جاهرة بالإنكار على الأ...راء في ال...لأ، لأن في الإنكار جهارا ...ا يخشى عاقبته، ك...ا اتفق في الإنكار على عث...ان جهارا إذ نشأ عنه قتله)اهـ.

Syekh Albani -rahimahullah- mengomentari hadits di atas sambil berkata, “Maksudnya terang- terangan dalam mengingkari (kesalahan) para pemimpin di hadapan orang banyak, karena mengingkari secara terang-terangan (menyebabkan) apa yang ditakutkan akibatnya, sebagaimana yang terjadi dalam pengingkaran terhadap Utsman secara terang-terangan, yang menyebabkan terbunuhnya beliau.” (Mukhtashar Shahih Muslim hal. 330)

Setelah dijelaskan metode Ahlus sunnah dalam menging

151
# Postingan: 18 Jan 2010 11:01
Balasan 


assalamualaikum..pa kabr semua? walafu ana baru nongol lg, krn ada urusan penting....ana turun ke lapangan basmi wahabi dan aliran sesat lain2 hehehee

mono
# Postingan: 18 Jan 2010 12:46
Balasan 


Setelah dijelaskan metode Ahlus sunnah dalam mengingkari kemungkaran baik yang muncul dari masyarakat umum atau dari penguasa atau pemimpin, ada baiknya di akhir lembaran ini disebutkan sebagian metode yang salah yang bertentangan dengan nash-nash syar’i dan prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal jama’ah dan manhaj salaf dalam mengingkari kemungkaran, di antaranya:

1. Angkat senjata, kudeta dan provokasi untuk melawan pemerintah.
2. Melakukan demonstrasi yang merupakan metode yang paling disukai oleh mayoritas manusia di zaman sekarang ini, sementara ini adalah metode yang dicetuskan oleh orang-orang Yahudi.
3. Dengan membeberkan kesalahan pemerintah di depan masyarakat umum, atau lewat media massa.
4. Dengan menggunakan kekerasan dan main hakim sendiri.
5. Sengaja memata-matai suatu kemungkaran yang tersembunyi untuk diingkari.
6. Mengingkari kemungkaran yang menyebabkan munculnya kemungkaran yang lebih besar.
7. dll.

Demikian yang bisa disampaikan dalam lembaran yang sederhana ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan para pembaca, jika didapatkan di dalamnya kebenaran ini semata mata taufik dari Allah Ta’ala dan jika didapatkan kesalahan dan kekeliruan ini semata-mata dari diri saya sendiri, saya istighfar dan taubat kepada Allah dan sangat mengharapkan nasihat dan saran dari para pembaca.

الح...د لله بنع...ته تت... الصالحات، وصلى الله وسل... على نبيا ...ح...د وعلى آله وصحبه أج...عين.

Muhammad Nur Ihsan

Madinah An-Nabawiyah

18/4/ 1426 H. / 26 May 2005 M

***

Penulis: Ustadz Muhammad Nur Ihsan, M.A.
(Mahasiswa S3 Universitas Islam Madinah, KSA)
Artikel www.muslim.or.id

forumers
# Postingan: 18 Jan 2010 14:28
Balasan 


151 beberapa waktu lalu saya browsing Majelis Rasulullah...dipinggir-pinggirnya ada u tube isinya tentang habib riziq memberi kajian tentang Yesus/Isa Al Masih..setelah saya klik ada u tube tentang kesaksian wanita tahajud melihat Isa Al Masih lalu bertobat masuk kristen, lalu ada lagi u tube tentang kesaksian anggotan FPI yang bertobat masuk kristen..apa maksud semua u tube2 tersebut...gerakan dakwah Islam atau gerakan kristenisasi tersembunyi sih? Mohon penjelasan...Biasanya yang disodorkan kisah orang non muslim masuk Islam bukan sebaliknya....terkait hal ini, saya belum bisa mempercayai cerita Muhammad bin Abdul Wahab seperti yang dipaparkan oleh wahabi bidah dikarenakan buku yang saya baca dirumah walaupun bukan dikarang oleh orang yang sama tapi isinya kurang lebih seperti yang dikemukakan syafar..saya tidak meyalahkan siapapun dalam hal ini akan tetapi sebaiknya hati2 dengan fitnah yang dilancarkan dari musuh2 Islam yang berusaha menyerang Islam dari dalam berkedok dakwah Islam akan tetapi sebenarnya melakukan hal2 yang justru menghancurkan Islam itu sendiri...strategi jitu yang selalu menjadi andalan musuh2 Islam yaitu menyerang dari dalam dengan menghembuskan fitnah dan mengadu domba seperti yang terjadi di Aceh..berkedok ulama snouck hougrounje mengacak-acak umat Islam di Aceh yang semula bersatu teguh dan kuat, dengan bermodalkan hafal Qur'an dan hadits, dia berhasil dengan sukses menghancurkan umat Islam Aceh dengan memutarbalikkan Qur'an dan hadits..Umat Islam yang pada dasarnya sangat taat pada Qur'an dan hadits..dihancurkan dan dipecahbelah lewat Qur'an dan hadits sendiri yang arti dan maknanya telah dirusak dan memang ditujukan untuk menghancurkan Islam itu sendiri dan setelah berhasil dipecahbelah..Aceh dengan mudah dikuasai Belanda..berbalik 180 derajat keadaannya....Wallahu'alam

forumers
# Postingan: 18 Jan 2010 15:28
Balasan 


Mengenai orang2 yang bersaksi melihat nabi Isa langsung saya berani jamin bahwa yang dilihatnya adalah makhluk halus..dikarenakan yang pernah melihat langsung nabi Isa langsung adalah Rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam dalam peristiwa Isra Mi'raj...Orang yang semacam ini sama keadaannya dengan orang2 yang mengaku melihat wali, orang suci dan semisalnya..akan tetapi tentu saja dapat dipastikan yang mereka lihat adalah makhluk halus dengan penampakan seperti demikian dengan maksud menggelincirkan manusia pada kesesatan....Dengan demikian betapa pentingnya mempelajari Qur'an dan sunnah dengan pemahaman khulafur rasyidin Insya Allah, agar akidah tidak mudah goyah dan dapat membedakan mana orang2 yang menyampaikan Qur'an dan sunnah sesuai dengan yang disampaikan oleh rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam mana yang telah mengalami pergeseran nilai dan makna sehingga peringatan Rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam agar berhati-hati terhadap sesuatu yang baru dan menekankan bahwa sesuatu yang baru adalah sesat tidak lain Insya Allah, hikmahnya adalah agar umat Islam dapat membedakan ajaran menyangkut ibadah dan syari'at mana yang ditunjukkan oleh rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam yang akan membawa kita ke jalan yang lurus menyelamatkan umat Islam dari kesesatan, mana yang bukan dari ajaran Rasululah shollollohu 'alaihi wa sallam, yang sudah ditambah-tambah dan dibumbui sehingga membuat umat Islam tertipu, terkecoh dan menjadi tidak waspada terhadap hal2 baru yang ditambah2kan ke dalam ajaran Islam yang sesungguhnya sehingga ketika umat Islam yang memandang bid'ah adalah baik tanpa sadar perlahan-lahan digiring semakin menjauhi Qur'an dan sunnah dan perlahan tapi pasti meninggalkan Qur'an dan sunnah sehingga semakin jauh dari jalan yang lurus..dan semua ini dikerjakan dengan sukarela dikarenakan keyakinan yang ditanamkan bahwa yang mereka lakukan adalah baik walaupun tidak ada contohnya dari Rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam sehingga memudahkan musuh2 Islam yang memang berniat menghancurkan Islam sejak awal dengan memutarbalikkan Qur'an dan hadits sesuka hati tanpa bisa dideteksi lagi dikarenakan keaslian/keotentikkan ajaran rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam dilunturkan dengan perkara2 baru yang dianggap baik tadi ...Akan tetapi sangat berbeda keadaannya apabila kita mematuhi apa yang dikatakan di riyadhus sholohin menjaga kelestarian Qur'an dan sunnah maka tidak semudah itu musuh2 Islam masuk mengobrak abrik Qur'an dan sunnah dikarenakan sepak terjangnya akan mudah diketahui dikarenakan sesuatu yang tidak berasal dari Rasulullah otomatis tertolak dengan demikian Insya Allah, prosedur pengamanan Qur'an dan sunnah terjaga dengan demikian kuatnya..darimanakah mereka ingin masuk apabila segala gerak gerik mereka akan terdeteksi dengan sunnah2 yang dijaga kelestariannya tersebut....Wallahu'alam...

forumers
# Postingan: 18 Jan 2010 15:44
Balasan 


Nabi Muhammad ketika peristiwa Isra Miraj ketemu semua nabi termasuk nabi Isa akan tetapi anehnya tidak membuat nabi Muhammad berpindah agama malah dari saran para nabi tersebut memberikan kontribusi kepada rakaat sholat yang harus dijalankan oleh umat nabi Muhammad shollollohu 'alaihi wa sallam dengan mendapat masukan dari para nabi sebelum nabi Muhammad shollollohu 'alaihi wa sallam berdasarkan pengalaman mereka ketika mendakwahkan kewajiban sholat pada masing2 umat mereka...bahkan setelah Isra Mira'j berlalupun rasulullah shollollohu 'alaihi wa sallam tetap mendakwahkan Islam dengan demikian gigihnya bukan berbalik sampai akhir hayat beliau..Pertanyaannya apabila ada yang mengaku melihat nabi Isa secara langsung dan malah membuatnya berbalik dari Islam, agama para nabi...siapakah sebenarnya yang telah dia lihat? nabi Isa atau syaitan yang menginginkan yang bersangkutan keluar dari jalan yang lurus?Nabi Isa mendirikan sholat dan juga menyuruh umatnya sholat, apabila ketemu dengan nabi Isa malah menyebabkan yang bersangkutan meninggalkan sholat dapat dipastikan yang ditemui bukanlah nabi Isa melainkan syaitan yang memang selalu menggoda manusia agar meninggalkan kewajiban sholat ....

forumers
# Postingan: 18 Jan 2010 17:37
Balasan 


klik Hasil Video Majelis Rasulullah klik ceramah habib Umar Bin Hafidh di Monas bersama Majelis rasulullahklik Panaas tangisan monas klik , klikJakarta BertaubatBarusan browsing Klik U tube Dialog Kristen & Habib Riziq FPI Soal Tuhan-2, kemudian muncul U tube Pemuka FPI Surabaya bertobat, menerima Yesus part 1, ada U tube Ibu Siti Hadidja bertobat menerima Yesus part 5,

mono
# Postingan: 19 Jan 2010 08:25
Balasan 


Penggerebekan dan Penghancuran Tempat Maksiat

Oleh: Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili

Pertanyaan:
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili ditanya: Apakah kami diperbolehkan
merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan, seperti menghancurkan
lokasi-lokasi pelacuran dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia?

Jawaban:
Ini tidak boleh! Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah
kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak Waliyul Amr (umara).
Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap
tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Para ulama telah menyebutkan masalah mengingkari dengan kekuatan tangan, merupakan hak penguasa. Yaitu orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya.”

Makna kemampuan yang disebutkan dalam hadits ini, bukan seperti yang
dibayangkan oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh. Kalau demikian yang dimaksudkan, maka kita semua dapat memukul. Namun, apakah benar yang dimaksud seperti ini?

Kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan syar’iyah. Yang berhak
melakukannya ialah orang yang memiliki kemampuan syar’iyah. Yaitu,
pengingkaran terhadap mereka tidak akan menimbulkan kemungkaran lain.
Dengan demikian, perbuatan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian
orang, baik dengan memukul atau menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dilakukan seperti pada sekarang ini merupakan pelanggaran

Orang yang melihat kemungkaran atau melihat pelaku kemungkaran, hendaknya melaporkannya kepada polisi, sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau para ulama atau para da’i, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Kemudian akan diselidiki, sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat.

[Soal-jawab Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili di Masjid Kampus
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 27 Jumadil Akhir 1427H]

***

* Sumber: Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo " Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016 " website: www.bukhari.or.id
* Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id

<< 1 ... 531 . 532 . 533 . 534 . 535 . 536 . 537 . 538 . 539 . 540 . 541 ... 706 . 707 . >>
Jawaban Anda
Bold Style  Italic Style  Underlined Style  Image Link  URL Link  Script AutoTab 
smile grin laugh
straight sad cry
frustrate angry mad
cool tongue wink
more smilies
Disable smilies

isikan kata kunci dari
gambar disamping»
» Nama 
Anda dapat mengirim pesan secara anonymously dengan mengisikan sembarang nama dalam kolom "Nama" (selama nama tersebut belum digunakan oleh Moderator), atau mengosongi kolom.
 

Powered by :: easy forum software miniBB™ © 2001-2010
 
Our Services