Brawijaya Forum
Forum Main Menu
Current Forum Spec.

 
Serba Serbi
Forum ini untuk menampung diskusi di luar topik yang ada
 
Akses: Public
Moderator forum: webmaster, UPPTI UB, Helpdesk UPPTI
NERAKA : BUKTI NYATA KASIH TUHAN - Brawijaya Forum
Brawijaya Forum / Serba Serbi / NERAKA : BUKTI NYATA KASIH TUHAN
Pencetus Tulisan
hambaNYA
# Postingan: 3 Nop 2007 12:37
Balasan 


Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun tapi mengapakah IA masih membuat neraka yang di dalamnya tersedia berbagai siksaan yang teramat pedih?bukankah itu berarti KASIH dan SAYANGNYA terbatas dan tidak MAHA PENGASIH PENYAYANG LAGI?

Seorang sufi ditanya mengenai hal ini oleh seorang muridnya dan menjawab " Sesungguhnya nikmat terbesar adalah rasa iman dan cinta padaNYA,sehingga kita ridho padaNYA dan IA ridho pada kita.Dan bencana terbesar adalah tidak di ridhoi olehNYA.Seorang di akhirat dimasukkan ke neraka karena di dunia ia tidak iman padaNYA atau sering meremehkan dan melanggar aturanNYA,setelah ia merasakan siksa pedih di neraka maka ia akan sadar dan merasakan iman yang penuh dan teguh akan KUASANYA.Jikalau TUHAN tidak memasukkannya ke neraka dan malah menaruhnya di surga sembari merasakan kesenangan-kesenangan akhirat
maka ia tak akan sadar akan kesalahannya dan tidak mengimaniNYA dengan penuh kesungguhan hati.Karena mendapat ridho TUHAN adalah kebahagian sejati meskipun engkau ada di neraka sekalipun.Ibaratnya engkau adalah orang tua yang kaya raya,punya seorang anak yang amat nakal,segala kebutuhan si anak telah engkau penuhi,namun jika engkau membiarkannya tetap dalam kenakalannya maka sesungguhnya engkau tidak sayang pada anakmu itu makanya engkau memasukkannnya ke panti rehabilitasi meskipun di dalamnya si anak harus menderita namun ia akan sadar dan menjadi baik".
Murid : "kalau begitu wahai guru ajarkan aku do'a agar mendapat ridho NYA di dunia dan akherat kelak"
Sufi : "wahai Tuhan bila sujudku hanya karena takut nerakaMU maka bakarlah aku dalam panas apinya,wahai Tuhan bila sujudku karena mengharap surgamu maka tutuplah pintunya untukku.Namun bila sujudku hanya karena Mu semata maka jangan berpaling dariku Ya Allah dan berikan ridhoMU ,entah engkau menempatkanku di surga atau neraka asalkan Engkau ridho padaku"

bejat budiman
# Postingan: 5 Nop 2007 22:02
Balasan 


Selain karena merupakan KASIH-Nya, neraka juga wujud dari KEADILAN-Nya.

Sebagai contoh: ( ini hanya sebagai contoh lho... bukan menggambarkan keadaan sebenarnya... jangan ngeres lho pikirannya.. )

Misalkan saja ada pimpinan kampus yang bertindak semena2 kepada mahasiswanya atau calon mahasiswanya. Pimpinan ini dengan serta merta menaikkan SPP sehingga banyak calon2 mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu mengurungkan niatnya utk kuliah. Akibatnya jelas, banyak potensi2 pemuda bangsa yang tak tersentuh kesempatan utk berkembang dikarenakan kebijakan ini. Ujung2nya bisa ditebak, sebuah kehilangan besar bagi masa depan bangsa, karena kesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang2 dari kalangan berduit saja. Dalam perspektif spiritual, kebijakan tersebut merupakan dosa besar yang sangat merugikan peradaban, khususnya bertentangan dengan nilai2 agama yg selalu menjunjung tinggi kesamaan derajat, persamaan hak, pembelaan terhadap kaum yang lemah dan konsep rahmatan lil-alamin.
Nah... seumpama tidak ada neraka atau surga, maka alangkah tidak adilnya Tuhan, yang membiarkan kejahatan tersebut terjadi di bumi-Nya. Untunglah Tuhan Maha Adil. Dia menciptakan surga dan neraka, agar segala hal2 berjalan sesuai dengan keadilan-Nya. Bolehlah orang2 yang semena2 itu bergembira di dunia ini, bersenang2 dengan kekuasaan, kekayaan, wanita2, atau kesenangan2 lain yang diperolehnya di atas penderitaan orang lain, akan tetapi Tuhan tidaklah tidur. Dia Maha Tahu, Maha Mendengar, dan Maha Adil. Maka, jika pimpinan tersebut lolos dari keadilan dunia buatan manusia, insyaallah dia tidak akan lolos dari pengadilan akhirat, sebagai pertanggungjawaban perbuatannya selama di dunia ini. Dan apabila di akhirat nanti dia divonis untuk dijebloskan ke neraka, maka di sinilah letak keadilan akhirat, sebagai wujud dari keadilan Tuhan yang seadil-adilnya, karena Dialah Yang Maha Adil.

Kira2 demikian...

123
# Postingan: 5 Nop 2007 22:52
Balasan 


oke.....tulisan kalian2 bagus2......................

tapi......ojo keseringan menjilat tanpa bukti nyata.............

yang penting, taat nggak kita2 ini??

nggak usah jauh2 surga neraka...... tapi apa yang bisa kita lakukan dan apa yang sudah kita lakukan untuk memberantas kemunafikan orang2 yang mengaku berfikiran modern di sekitar kita.... udah termakan kah kita?

jauh-jauh ngomong surga neraka..... masih banyak teman2 kita yang BELUM paham konsep keTuhanannya.............itu dulu dibahas......krn itu dasar......

gusdur-mania
# Postingan: 6 Nop 2007 01:39
Balasan 


Sufi : "wahai Tuhan bila sujudku hanya karena takut nerakaMU maka bakarlah aku dalam panas apinya,wahai Tuhan bila sujudku karena mengharap surgamu maka tutuplah pintunya untukku.Namun bila sujudku hanya karena Mu semata maka jangan berpaling dariku Ya Allah dan berikan ridhoMU ,entah engkau menempatkanku di surga atau neraka asalkan Engkau ridho padaku

Wah, itu Sufi gak bener itu
Gak pernah nabi ngajarin konsep Doa yang seperti itu
Lagi pula takut pada siksa dan mengharapkan syurga itu
adalah perintah Allah
artinya bentuk cinta kita pada Allah
Itu ada dalam dalam Alquran, loh
tapi omongan sufi tadi gak ada dalil dan perintahnya
lebih tinggi mana omongan sufi yang gak jelas(namanya juga gak ada)
atau firman Allah

hambaNYA
# Postingan: 6 Nop 2007 16:06
Balasan 


Yang jelas Allah juga berfirman bahwa iblis dapat menyesatkan siapapun entah dia ahli agama,dosen,profesor,mahasiswa,orang pandai ato bodoh,atau orang yang taat beribadah dan hanya satu golongan yang tak bisa ia sesatkan yaitu orang-orang yang ikhlas dalam beribadah padaNYA,orang yang beribadah dan itu dilakukan hanya karena ia takut neraka dan mengharap surga maka apakah itu bisa disebut dengan keikhlasan yang sempurna.
Bagaimana jika surga dan neraka tak pernah ada?
atau bagaimana jika surga dan neraka kelak juga rusak karena bukankah surga dan neraka hanyalah ciptaan atau makhluk dan semua makhluk adalah fana,akan rusak,tidak kekal abadi,karena memang hanya DIA yang MAHA KEKAL ?
Hal yang belum ada pada jaman nabi belum tentu hal itu salah, yang salah mungkin hanya pemahaman anda dalam memandang hal itu untuk lalu dicroscek ke ajaran nabi.

non-sufi
# Postingan: 6 Nop 2007 16:41
Balasan 


sufi lagi....

Sufi : "wahai Tuhan bila sujudku hanya karena takut nerakaMU maka bakarlah aku dalam panas apinya,wahai Tuhan bila sujudku karena mengharap surgamu maka tutuplah pintunya untukku.Namun bila sujudku hanya karena Mu semata maka jangan berpaling dariku Ya Allah dan berikan ridhoMU ,entah engkau menempatkanku di surga atau neraka asalkan Engkau ridho padaku"

gerombolan orang yg suka mikir aturan yg dah jelas dalilnya

lha klo gak mau masuk surga & gak mau masuk neraka mo masuk mana.... dikasih surga ama Allah malah gak mau.... ini GOBLOG ato TOLOL

Bagaimana jika surga dan neraka tak pernah ada?
atau bagaimana jika surga dan neraka kelak juga rusak karena bukankah surga dan neraka hanyalah ciptaan atau makhluk dan semua makhluk adalah fana,akan rusak,tidak kekal abadi,karena memang hanya DIA yang MAHA KEKAL ?


Faktanya: Surga dan Neraka jelas ada, jadi ngapain susah-susah mikir klo "gak ada" ?!?!! Pekara Gaib ga bs dipikir pake otak manusia om !!!

Hal yang belum ada pada jaman nabi belum tentu hal itu salah, yang salah mungkin hanya pemahaman anda dalam memandang hal itu untuk lalu dicroscek ke ajaran nabi.

ijtihad pun ada dalilnya, agama gak dibangun dr pemikiran manusia aja...

kutendang non sufi
# Postingan: 6 Nop 2007 17:10
Balasan 


dasar kafir!!!
sesat g berguna

gusdur-mania
# Postingan: 6 Nop 2007 22:45
Balasan 


Bagaimana jika surga dan neraka tak pernah ada?
atau bagaimana jika surga dan neraka kelak juga rusak karena bukankah surga dan neraka hanyalah ciptaan atau makhluk dan semua makhluk adalah fana,akan rusak,tidak kekal abadi,karena memang hanya DIA yang MAHA KEKAL ?


Kalau saya sih gampang aja, orang yang bilang tadi itu gak punya iman, karena gak percaya sama gaib
yang kedua orang itu ragu sama Allah alias gak percaya sama Allah
pada sudah pasti dan jelas Allah bilang syurga dan neraka ada eh masih tanya lagi, yang imbuhannya manis sekali apakah kamu masih menyembah Allah kalau syurga dan neraka gak ada
itu pertanyaan orang kurang kerjaan
gak usah dipikir hal yang gak berguna itu
Syurga dan neraka sudah pasti disediakan Allah
udah pikirin kuliahmu aja
cepat lulus
inget eh mahasiuswa Brawijaya
ente itu disubsidi rakyat
pikirkan rakyat
gitu aja kok freport eh repot

Adam
# Postingan: 14 Des 2007 10:55
Balasan 


harusnya kita memahami dulu apa surga dan apa neraka. "Neraka itu bahan bakarnya manusia", ini berarti balik sama diri kita sendiri, jangan pernah mau menjadi bahan bakarnya kalo kita gak mau masuk neraka. Yang mewujudkan surga dan neraka tuh sebenernya manusia sendiri, tidak pernah dapat digambarkan oleh Nabi sekalipun bagaimana bentuk neraka sebenarnya. Sebetulnya neraka dibangun oleh manusia itu sendiri, Allah cuma ngasih jalan dan kebebasan serta nunjukin mana yang bathil dan yang hakiki. Intinya neraka adalah konsekuensi dan kodrat seperti contoh: orang yang korupsi walaupun duitnya banyak tapi hidupnya gak pernah tenang, moral anaknya bejat, mati gak tenang & kehidupannya semerawut dst atau seperti pecandu narkoba yang kesiksa karena sakau dan mati karena over dosis dll. Jadi intnya NERAKA itu hanya sebuah konsekuensi dari apa yang kita lakukan, jelas enggak ada hubungannya dengan Kasih Sayang Illahi. Jangankan kita sedikit amal, banyak amal juga belum tentu lolos dari neraka kalau hati kita tidak dikembalikan pada Illahi. Allah itu Maha Suci Pengasih dan Penyayang menciptakan kita juga dengan makna itu. Coba kita kaji lebih dalam apa buktinya? Josh Bush aja masih diberi kehidupan dan rizki yang melimpah, padahal jelas2 orang zalim toh! Koruptor aja masih hidup, jadi secara logis kalau neraka itu ada atas dasar hukuman dari Allah kita udah fitnah tuh dosa gede, kalo emang kayak gtu mau juga Allah nyabut nyawa para Koruptor ato Josh W Bush sekalian, tp enggak kan? Jadi neraka itu cuma sebuah konsekuensi sebagai timbal balik dari perbuatan kita, jadi kalo kita mati masuk neraka bentuk nerakanya juga tiap orang pasti beda2 tergantung perbuatannya. Kembalikan semuanya pada Allah, pelajari Sifat2nya dan aplikasikan, misalkan Allah Maha Pengasih dan Penyayang, artinya jadi kasih sayang kita juga harus besar terhadap sesama; Allah Maha Suci, artinya kita harus ikhlas dan bersih dari penyakit hati; Allah Maha Melihat, artinya kita jangan asal lihat karena Allah melihat apa yang kita lihat dst... kalo kita bisa lakoni baru kita bisa kembali kepada Allah, ya yang kita namakan SYURGA itu yaitu ketentraman dan kebahagiaan. Selanjutnya bisa ditafakuri oleh diri masing2...

Adam
# Postingan: 14 Des 2007 11:13
Balasan 


Mo tak gambarkan neraka? tapi ndak usah didebat ya ini gimana penafsiran kita masing2 c... Neraka setelah mati itu jelas ADA. contonnya ada kuntilanak, gunduruwo dll. itu dulunya manusia lho kayak kita. setelah dia mati fisiknya gak ada tapi ruhnya tetap ada karena tidak suci, knp tidak suci? bukan karena tidak suci secara fisik tapi secara batin, artinya matinya masih banyak penyakit hati dan ndak ikhlas, jadi yang gentayangan itu adalah sifat2 buruknya. Walaupun ndak bisa digambarin tapi kita bisa bayangin, gimana kalau kita mati, tapi masih merasakan keinginan, lapar, haus dan sedih, PERLU DICATAT : ITU KEKAL!!! nah gimana caranya kita makan? minum? ato bahkan ngobrol sama orang yang kta cintai? salah2 orang liat kita malah jadi lari terbirit2. Nah inilah awal asal mulanya adanya "kesurupan", klo kita gentayangan pengen makan ato minum caranya ya nyurupin orang. Itu baru awal dari tersiksanya kita kalo masuk neraka setelah kita mati, bayangin kalo dunia kiamat, bumi cuma tinggal api apa yang kita rasakan? gak bisa dibayangkan kan? yang ada cuma kata "NGERI". Nah makna Inallilahiwainaillahirojiun itu apa? Itu sebuah doa buat kita dan orang mati, semoga asal dari Allah (Maha Suci) ya kita kembali ke Allah juga, jangan sampe ke pohon atau batu. Makanya dari itu kita wajib mengenal Allah baik dari Nama dan Sifat-Sifat Agung-Nya, kemudian amalkan dan tanya sama diri kita sendiri setiap detik, apa kita udah layak kembali pada Allah? kali aja kita mati 1 detik lagi . Semoga Allah menerima taubat kita semua ya... amin...

Adam
# Postingan: 14 Des 2007 12:47
Balasan 


HAL PENTING TTG WACANA DI ATAS ------------------------------------------- Soal Jin dan Manusia : Disebutkan bahwa ada Jin dan Manusia. Sebenarnya Jin, Manusia, Iblis, Setan adalah sebuah nama dari sifat, hanya khusus hal manusia dengan jin ada perbedaan dari segi bentuk. Nah kita harus mengenal dulu semuanya kalo pengen ngerti. Pertama: Beda Manusia dengan orang dari makna : Diibaratkan kalo orang berbelas kasih itu namanya orang berprikemanusiaan[b][/b] bukan orang berprikeorangan! Ndak ada istilah itu toh! Orang dan manusia adalah wujud dan sifat. Nah sifat dari manusia salah 1 nya adalah welas asih, jadi orang gak layak disebut manusia kalo gk punya welas asih, tp dasarnya setiap manusia punya, yang ngebedain cuma kadarnya jadi orang sering disebut manusia juga karena 1 kesatuan. Perlu dicatat lagi manusia itu juga punya sifat sering kali melakukan kesalahan. Lanjyut... Trus apa itu jin? jin itu sifatnya jahil kan? apa kita punya sifat jahil? knapa kita jahil? biasanya sifat jahil itu timbul kalo kita ndak ada kerjaan bukan? (Nah orang yang mati gentayangan banyak yang nganggur tuh, makannya jahil kan! ) karena setelah mati kebaikan kita ndak dihitung lagi jadi so pasti yang nyisa cuma sifat2 buruknya aja, jadi orang yang sudah mati ndak disebut lagi manusia karena sifat manusianya udah otomatis lenyap. -------------- Orang diciptakan dari unsur api (matahari), air, tanah dan angin. Jadi dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa setan, jin, iblis adalah menyatu dalam diri 1 orang, cuma masalah sifat yang mana yang lebih dominan? kalau sifat kita amarah dan kejam, berarti dalam diri kita setan telah menguasai diri, kalau kita haus sex, cabul dll, berarti iblis telah menguasai diri. Nah makannya perang terbesar itu bukan perang Badr, tp perang melawan iblis dan setan yang ada pada diri kita sendiri. -------------
Iblis dan Setan hidup kekal : artinya klo manusia mati dan menjadi jin (naudzubilah) sifat2 Iblis dan Setan itu masih akan tetap selalu ada pada diri Jin. Jin : sebagai wujud lain daripada orang yang lalai. ------------------- Jadi dapat kita simpulkan bahwa Jin dan manusia dibedakan dari wujud dan sifat, tapi sumbernya adalah sama.
--------------- Manusia sebagai khalifah secara fisik : Manusia asalnya dari tanah dan kita hidup dari tanah fisik kita pun dari unsur tanah, buktinya kita nanam beras dimana? ditanah kan? itu maksudnya wujud manusia dijadikan sebagai pemimpin, walaupun unsur2 lain berperan seperti api (matahari), tapi kita ndak bisa makan api kan? kalo tubuh kita lebih dominan api rumah kita bisa kebakaran toh? hehehe silahkan komentar...

vio
# Postingan: 5 Jul 2009 09:15
Balasan 


hmm . . . adam boleh jugaa.

vio
# Postingan: 5 Jul 2009 09:28
Balasan 


"segala yang ada di bumi dan di langit terpusat pada satu, diatas pusat masih ada pusat dan pusat tertinggi adalah Allah . .

. . . dan semua tindakan kita adalah hanya satu tujuan yaitu mengharap ridho_Nya.

karena itu kunci hidup yaitu IKHLAS.

segala yang menyimpang dari keikhlasan takkan ada yang selamat,

begitulah aturan mainnya.



Achmad Imam .S. Bashir
# Postingan: 30 Jul 2009 08:54
Balasan 


gusdur-mania
Buat Gusdur Mania, Anda boleh mengatakan seperti itu karena itu hak anda sebab anda belum tahu tentang kebenaran Al Haq., Ibarat makan pisang yang enak itu isinya bukan kulitnya. Orang sufi seperti itu jiwanya. Dengan mata hatinya yang bersih dan suci dia merasakan dan melihat ALLAH dengan segenap kekuasaan-Nya, tidak ada lagi keraguan dalam hatinya. semua yang ada dalam Al-Qur'an benar.... dan orang sufi sudah jatuh cinta kepada ALLAH SWT yang keberadaannya memenuhi alam jagad raya ini. kalau boleh diibaratkan Orang sufi itu ( ma'rifatullah) ilmu tauhidnya sudah S3 (doctor) sedang yang syariat masih sekolah dasar. jangankan cara dia berdo'a, pembicaraan orang sufi itu kadang tidak nyambung dengan orang syariat. orang sufi bicara bukti-bukti kebenaran dengan pengalaman spiritualnya. Pesan saya buat anda gusdur mania pandai-pandailah mengaji Al Qur'an bukan membaca Al Qur'an agar anda mengerti dan paham tentang kebenaran.

alwis
# Postingan: 30 Jul 2009 11:09
Balasan 


Hakekat semua bentuk kejadian di alam apakah itu selamat dari musibah, terangkatnya kesulitan, musibah yang menimpa seperti musibah gunung meletus, kebakaran, banjir, gempa bumi dll. adalah bentuk dari KELEMBUTAN ALLAH JALLA WA`ALA

alwis
# Postingan: 30 Jul 2009 11:10
Balasan 


terciptanya neraka pun hakekatnya bentuk dari Maha Lembutnya Allah

faoziaries@yaho o.co.id
# Postingan: 4 Peb 2010 18:35
Balasan 


Kafirkah anak khawarij,syiah yg merasa muslim dan mencintai Alloh dan rosulNya yg baru baligh, 2 hari kemudian mati,ia bersyahadat,sholat,puasa,zakat serta berusaha mencari ilmu agama,tp kemudian maut menutup hidupnya,ia mati kafir??padahal menyembah Alloh.:(:(

mono
# Postingan: 8 Peb 2010 12:11
Balasan 


Akhir Kehidupan Yang Jelek
25 December 2009 M | 08 Muharram 1431 H 787 views 0 TanggapanPrint Print Email EMAIL

الح...د لله رب العال...ين، والصلاة والسلا... على رسول الله صلى الله عليه وسل...، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له وأشهد أن ...ح...دا عبده ورسوله وبعد

Dari Sahl bin Sa`ad as Saa`idiy radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

إن العبد ليع...ل- في...ا يرى الناس- ع...ل أهل الجنة، وإنه ل...ن أهل النار، ويع...ل في...ا يرى الناس ع...ل أهل النار وهو ...ن أهل الحنة، وإن...ا الأع...ال بخواتي...ها

Artinya : “Sesungguhnya seorang hamba betul-betul mengamalkan amalan ahli surga sebagaimana dilihat oleh manusia, padahal dia salah seorang dari penghuni neraka, dan seorang hamba mengerjakan amalan penghuni neraka sebagaimana yang disaksikan oleh manusia, padahal dia salah seorang penghuni sorga, sesungguhnya amalan tersebut dinilai dikala penutupnya”.[1]

Berkata Ibnu Bathol mengenai hadist diatas:

“Tersembunyinya penutup amalan dari seorang hamba merupakan hikmah yang tepat sekali. Hal ini merupakan pengaturan yang lembut. Sebab kalau seandainya seorang hamba mengetahui dia selamat dalam keadaan menakjubkan, ini akan menjadikan ia malas. Dan kalau seandainya dia mengetahui bahwa ia akan binasa, maka akan bertambah kedurhakaannya. Maka dihijab darinya yang demikian itu (penutup amalannya) supaya dia berada diantara takut dan harap (harap-harap cemas)”.[2]

Oleh karena itu, orang-orang shalih sangat khawatir akan akhir dari kehidupan yang jelek. Diantara mereka berkata : kekhawatiran orang-orang shalih dari akhir kehidupan yang jelek senantiasa di setiap saat dan gerakan. Dan berkata Abu Darda` : “Tidak seorangpun merasa aman atas tidak dicabutnya keimanannya ketika kematian, kecuali akan dicabut dari dirinya[3]. Tatkala kematian mendatangi Imam Sufyan ats Tsauriy rahimahullahu Ta`ala mulailah beliau menangis, maka berkata salah seorang yang hadir kepada beliau : “Wahai Abu `Abdillah apakah dikarenakan banyaknya dosa tangisan ini?” Maka beliau menjawab : “Tidak, akan tetapi saya khawatir akan dicabutnya keimanan ini sebelum kematian.[4]”

Maka dikarenakan inilah takutnya kaum salaf dari dosa-dosa yang akan menjadi hijab (penghalang) diantara mereka dengan akhir kehidupan yang baik.

Berkata al imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta`ala : “Ini merupakan fiqh yang sangat besar, dimana takutnya seseorang akan ditipu oleh dosa-dosanya ketika menjelang kematian, yang akan menjadi penghalang diantara dia dengan husnul khatimah”.[5]

Berkata al Haafizh `Abdul Haq al Asybeeliy : “Bagi su’ul khatimah, semoga Allah Tabaaraka wa Ta`ala melindungi kita darinya, mempunyai sebab-sebab. Su’ul khatimah itu ada jalan-jalan dan pintu-pintu, dan penyebabnya yang paling terbesar ialah jungkir balik dengan dunia, mencari dunia dan tamak dengannya. Kemudian berpaling dari akhirat lalu menghadap dan berani melakukan maksiat kepada Allah. Satu sisi dalam bentuk berpaling, dan satu bagian dari bentuk keberanian dan menghadap kepada maksiyat, lalu dia menguasai hatinya dan menahan akalnya, kemungkinan saja kematian mendatanginya ketika dia dalam keadaan demikian. Su’ul khatimah tidak akan terjadi bagi orang-orang yang zhahirnya istiqomah dan bathinnya shalih dan hal ini tidak pernah didengar dan diketahui, segala puji bagi Allah Jalla wa `Alaa. Hanya saja, su’ul khaatimah itu terjadi bagi orang-orang yang rusak dalam akidah, atau larut dalam dosa-dosa besar, dan selalu mengerjakan maksiat yang besar. Sehingga mungkin saja perbuatan dosa itu mengalahkan dia, sampai datang kepadanya kematian sementara dia belum taubat darinya.”[6]

Kadang-kadang nampak ketika seseorang dalam keadaan sakaratul maut apa-apa yang menunjukan su’ul khatimah pada dirinya. Seperti susah baginya untuk mengucapkan syahadatain, bahkan dia menolak kalimat tersebut. Dan ada juga yang selalu berbicara tentang kejelekan dan yang haram-haram, dan menampakan ketergantungan dia dengan maksiat tersebut dan sejenisnya dari bentuk ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang menunjukan berpalingnya dia dari din (agama) Allah Tabaaraka wa Ta`ala dan ia pesimis sampai turunnya qadha (keputusan) Allah Subhaana wa Ta`ala.[7]

Berkata al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta`ala : “Dan apabila kamu memperhatikan keadaan kebanyakan orang-orang yang sedang sekarat, maka kamu akan mendapatkan diantara mereka dihalangi dengan husnul khatimah, sebagai adzab bagi mereka atas amalan-amalan mereka yang jelek”.[8]

Berkata Ibnu Rajab : “Sesungguhnya su’ul khatimah adalah merupakan sesuatu yang tersembunyi bagi seorang hamba, yang tidak akan bisa dilihat oleh manusia. Kadang-kadang dari sisi bentuk amalan yang jelek dan semisalnya. Maka sifat yang tersembunyi tersebut yang akan menyebabkan terjadinya su’ul khatimah ketika kematian, dan demikian juga kadang-kadang seorang lelaki mengamalkan amalan ahli naar (penduduk neraka), namun dibatinnya terdapat sifat tersembunyi dari sifat-sifat kebajikan, lalu dominan atasnya sifat yang baik itu sampai akhir hayatnya, maka diwajibkan atasnya husnul khatimah”.[9]

Sesungguhnya sebagian ahli ilmu telah menyebutkan beberapa sebab dari su’ul khatimah :

Pertama : Berangan-angan dalam bertaubat, dan terus-menerus larut dalam maksiat, serta bermudah-mudah dalam mengerjakan hal-hal yang wajib, dan sebagian mereka menyembunyikan bahwa dia akan taubat.

Akan tetapi kapan??? Berkata seorang pemuda : “Saya akan taubat ketika saya nikah”, kemudian berkata penuntut ilmu : “Saya akan taubat setelah dari menuntut ilmu”, berkata si miskin: “Saya akan taubat kalau saya sudah jadi pegawai”, berkata si kecil : “Saya akan taubat ketika sudah besar”. Dan beginilah setiap orang menetapkan janji tentang taubatnya, lalu dikatakan kepada mereka seluruhnya : “Siapa yang akan menjamin sampainya kalian kepada angan-angan tersebut? Apakah kalian tidak takut pada ajal yang mendahului kalian sebelum sampai pada angan-angan tersebut? Kemudian kalaupun kalian sampai kepadanya, apakah kalian bisa menjamin bahwa kalian akan diberi taufiq untuk taubat, sementara kalian telah menghabiskan umur kalian dalam kesesatan dan kerusakan, dan larut dalam syahwat yang diharamkan, yang mana keseluruhan itu kebanyakan sebagai penyebab untuk terputar baliknya dan rusaknya hati”. Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

يَا أَي'ُهَا ال'َذِينَ آ...َنُوا اس'تَجِيبُوا لِل'َهِ وَلِلر'َسُولِ إِذَا دَعَاكُ...' لِ...َا يُح'يِيكُ...' وَاع'لَ...ُوا أَن'َ الل'َهَ يَحُولُ بَي'نَ ال'...َر'ءِ وَقَل'بِهِ وَأَن'َهُ إِلَي'هِ تُح'شَرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (QS. Al Anfaal : 24 )

As Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy berkata dalam menafsirkan ayat ini : “Allah Ta`ala memerintahkan hamba-hambaNya mukminin kepada apa yang diharuskan oleh keimanan dari mereka, yaitu ketundukan kepada Allah dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam. Maksudnya ketundukan terhadap apa yang diperintahkan dan bersegera untuk menunaikannya serta berdakwah kepadanya, lalu menjauhi apa yang dilarang darinya, berhenti dan menahan diri darinya. Sesuai dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta`ala :

(إِذَا دَعَاكُ...' لِ...َا يُح'يِيكُ...' )

Yang artinya : “apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”

Maksudnya di sini adalah sifat yang melazimkan bagi setiap apapun yang diserukan oleh Allah Ta`ala dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam kepadanya dan penjelasan tentang faidah dan hikmahnya. Sesungguhnya hidupnya hati dan ruh ini dengan beribadah kepada Allah Ta`ala dan selalu mentaati-Nya serta mentaati Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam terus-menerus. Kemudian diwanti-wanti dari tidak tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah berfirman:

(وَاع'لَ...ُوا أَن'َ الل'َهَ يَحُولُ بَي'نَ ال'...َر'ءِ وَقَل'بِهِ )

Yang artinya : “Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.”

Hati-hati kalian dari menolak perintah Allah awal pertama kali datang kepada kalian, maka dihalangi diantara kalian dengannya ketika kalian ingin melaksanakannya, dan bercerai berai hati"hati kalian. Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta`ala akan membatasi diantara seseorang dengan hatinya. Dia yang akan membolak-balikkan hati sesuai dengan kehendak-Nya, dan memalingkannya kemana yang Dia ingin palingkan. Maka hendaklah seorang hamba memperbanyak ucapan : Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati ini ! Tetapkan hati saya ini diatas Din Engkau. Wahai

Dzat yang memalingkan hati-hati ini! Palingkan hati saya ini untuk mentaati Engkau. [10]

( وَأَن'َهُ إِلَي'هِ تُح'شَرُونَ )

Yang artinya : “dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”

Maksudnya kalian akan dikumpulkan pada hari yang tidak diragukan lagi adanya, maka dibalas seseorang yang berbuat baik dengan kebajikan dan yang melakukan kejelekan juga dibalas dengan kejelekannya. [11]

Dan Allah Subhaanahu wa Ta`ala berfirman :

وَنُقَل'ِبُ أَف'ئِدَتَهُ...' وَأَب'صَارَهُ...' كَ...َا لَ...' يُؤ'...ِنُوا بِهِ أَو'َلَ ...َر'َةٍ وَنَذَرُهُ...' فِي طُغ'يَانِهِ...' يَع'...َهُونَ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat“. (QS. Al An`aam : 110).

Kemudian Allah Tabaara

mono
# Postingan: 8 Peb 2010 12:12
Balasan 


Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta`ala menjelaskan sebab-sebab berpalingnya hati ini, maka Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

( كَ...َا لَ...' يُؤ'...ِنُوا بِهِ أَو'َلَ ...َر'َةٍ )

artinya : “Seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya”, yang maksudnya disebabkan menolak kebenaran pada awal kebenaran itu datang kepada mereka, kemudian Allah berfirman:

( وَنَذَرُهُ...' فِي طُغ'يَانِهِ...' يَع'...َهُونَ )

artinya : “Dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat”,

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`ala menafsirkan ayat ini sebagai berikut : “Kami akan mengadzab mereka apabila mereka tidak beriman ketika awal datangnya seorang penyeru kepada mereka dan ditegakkanlah atas mereka hujjah dengan bentuk diputar-balikkannya hati mereka dan penghalang diantara mereka dengan keimanan, serta tidak diberi taufiq untuk melalui jalan yang lurus. Dan ini merupakan bentuk keadilan dan hikmah Allah Subhaanahu wa Ta`ala terhadap hamba hambanya. Sesungguhnya mereka sendiri yang mengusahakan atas diri-diri mereka sendiri, dibukakan untuk mereka pintu namun mereka tidak mau masuk kedalamnya, lalu dijelaskan kepada mereka jalan, lantas mereka juga tidak mau untuk mengikutinya. Maka setelah demikian bila telah diharamkan atas mereka taufiq, itulah yang cocok dengan keadaan mereka.[12]

Sungguh Allah telah mencela satu kaum yang memiliki angan-angan yang panjang sampai melalaikan mereka dari beramal untuk akhirat mereka, maka datanglah kepada mereka ajal secara tiba-tiba sementara mereka dalam keadaan lalai. Allah `Azza wa Jalla berfirman:

رُبَ...َا يَوَد'ُ ال'َذِينَ كَفَرُوا لَو' كَانُوا ...ُس'لِ...ِينَ (2) ذَر'هُ...' يَأ'كُلُوا وَيَتَ...َت'َعُوا وَيُل'هِهِ...ُ الأَ...َلُ فَسَو'فَ يَع'لَ...ُونَ

Yang artinya : “Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)” (QS. Al-Hijr : 2-3)

Al Imam As Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy menafsirkan ayat ini :

“Dan ini merupakan diantara apa-apa yang diwajibkan atas makhluk ini agar tunduk kepada-Nya dan menyerahkan diri pada hokum-Nya dan hendaknya mereka menerima dengan senang hati dan gembira. Adapun seseorang yang membalas nikmat yang agung ini dengan bentuk menolaknya dan mengingkarinya, sesungguhnya dia tergolong kepada orang-orang yang berdusta lagi sesat, yang akan datang kepada mereka waktu dimana mereka berangan-angan bahwa mereka muslimin. Mereka tunduk terhadap hukum Allah Jalla wa `Alaa, demikian itu takkala sudah dibukakan penutup dan nampak sudah awal-awal kehidupan akhirat dan pendahuluan dari kematian. Sesungguhnya mereka ketika berada dalam situasi kehidupan akhirat mereka keseluruhannya berangan-angan bahwa mereka muslimin, sungguh telah berlalu waktu demikian, akan tetapi mereka ketika di dunia termasuk orang-orang yang tertipu.”

Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

ذَر'هُ...' يَأ'كُلُوا وَيَتَ...َت'َعُوا

Maksudnya : biarkanlah mereka makan dan bersenang senang dengan kelezatan mereka,

وَيُل'هِهِ...ُ الأَ...َلُ

Maksudnya : Dan mereka dilalaikan oleh angan-angan, artinya : berangan-angan mereka untuk kekal di dunia lantas mereka lalai dari akhirat. Maka mereka akan mengetahui, bahwa apa-apa yang mereka ada padanya merupakan kebathilan, dan amalan-amalan mereka pupus habis dengan keadaan mereka manusia yang merugi. Jangan sekali-kali mereka tertipu dengan bentuk melalaikan perintah Allah `Azza wa Jalla, maka sesungguhnya ini merupakan sunnatullah pada setiap ummat.[13]

Berkata `Ali bin Abi Tholib radhiallahu `anhu : “Sesungguhnya yang saya takutkan atas kalian dua saja, yakni panjang angan-angan dan pengekoran terhadap hawa. Adapun panjang angan-angan akan melupakan akhirat, dan adapun pengekoran terhadap hawa akan menghalangi seseorang dari kebenaran”.

Kedua : Mencintai maksiat

Sesungguhnya seorang manusia apabila dia terus-menerus dalam maksiat dan tidak bersegera untuk bertaubat dari padanya, maka hatinya akan mengikatkan dia dengan maksiat tersebut sampai maksiat itu menguasai pemikirannya menjelang akhir-akhir dari kehidupannya, lalu dia meninggal di atas maksiat dan dibangkitkan di atasnya.

Dari Jabir bin `Abdillah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Salla bersabda :

“يبعث كل عبد على ...ا ...ات عليه”.

Yang artinya : “Setiap hamba akan dibangkitkan di atas apa dia mati padanya”.[14]

Berkata Ibnu Katsir : “Dosa-dosa dan maksiat serta syahwat akan menghancurkan pelakunya disaat menjelang kematiannya, dibarengi dengan penyesatan syaitan terhadapnya, maka terkumpullah atasnya tipu daya syaitan dan lemahnya iman, lalu terjatuhlah dia dalam su’ul khatimah”.[15]

Berkata `Abdul `Aziiz bin Abi Rawwaad rahimahullahu Ta`ala : “Saya pernah menghadiri seseorang menjelang kematiannya, kemudian ditalqin kepadanya kalimat Laa Ilaaha Illallahu, maka diakhir perkataannya dia berkata bahwa dia mengingkari dengan apa-apa yang kamu katakan, lalu dia meninggalkan atas demikian. Berkata ibnu Abi Rawwad : maka saya menanyakan tentang dia, dan ternyata dia adalah pecandu khomar. Kemudian `Abdul `Aziz berkata : “Takutlah kalian akan dosa-dosa, sesungguhnya dosa tersebutlah yang menghancurkan dia” Dan ada lagi seseorang yang sedang sakaratul maut, lalu dikatakan padanya : “Ucapkanlah kalimat Laa Ilaaha Illallah !” Maka mulailah dia melantunkan lagu-lagu sampai dicabut ruhnya. : “Aaah…aaah saya tidak sanggup untuk mengucapkannya” Kisah tentang kejadian seperti ini sangat banyak”.[16]

Berkata al Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu Ta`ala : “Apabila kamu mengetahui arti dari su’ul khatimah maka hati-hatilah kamu dari sebab-sebabnya, dan persiapkanlah apa yang bisa memperbaikinya, jauhilah sifat menunda-nunda dengan selalu mempersiapkan diri. Sesungguhnya umur ini pendek dan setiap jiwa dari jiwa-jiwa engkau tergantung dengan akhir dari kehidupan kamu. Karena mungkin saja dicabut padanya ruh engkau, sedangkan manusia akan mati atas apa yang dia hidup atasnya, dan akan dibangkitkan atas apa yang dia mati atasnya”.[17]

Maka diwajibkan atas seorang hamba hendaklah dia selalu melazimkan dirinya untuk taat dan taqwa, lalu menjauhkan dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Kemudian bersegera untuk bertaubat dari perbuatan maksiat. Selanjutnya hendaklah dia senantiasa dalam do`anya kepada Allah supaya ditutup kehidupannya dengan akhir yang baik. Dan hendaklah dia berbaik sangka terhadap Rabbnya `Azza wa Jalla. Dari `Abdullah bin `Amrin radhiallahu `anhu bahwa dia mendengar Nabiy Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

“إن قلوب بني آد... كلها بين أصبعين ...ن أصابع الرح...ن عز وجل كقلب واحد يصرفه حيث شاء”

Yang artinya : “Sesungguhnya hati-hati anak cucu Adam keseluruhannya berada diantara jari-jemari ar Rahman seperti satu hati. Dia akan palingkan sekira-kira kemana Dia inginkan”.[18] Kemudian Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“الله... ...صرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك”.

“Ya Allah yang memutar balikan hati-hati ini, palingkan hati kami ini untuk menaati Engkau”.[19]

والح...د لله رب العال...ين, وصلى الله وسل... على نبينا ...ح...د وعلى آله وصحبه أج...عين

Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal bin Muhammad Kamal As Salafiy dari kitab : “Ad Durarul Muntaqoot minal Kalimaatil Mulqoot Duruusun Yaumiyyah”, karya Ad Doktor Amiin bin `Abdillah As Syaqaawiy, .

[1] Al Bukhaariy (6493), Muslim (2651), dan lafazh hadist ini dishohih al Bukhaariy

[2] Fathul Baariy (11/338).

[3] Mukhtashor Minhaajul Qaashidiin hal. 391.

[4] Mukhtashor Minhaajul Qaashidiin hal. 391.

[5] Al Jawaabul Kaafiy liman sa ala `anid Dawaais Syaafiy hal. 148.

[6] Al Jawaabul Kaafiy liman sa ala `anid Dawaais Syaafiy hal. 146,148.

[7] Masyaahidul Ihtidhor hal. 75.

[8] Al Jawaabul Kaafiy liman sa ala `anid Dawaais Syaafiy hal. 146.

[9] Jaami`ul `Uluumi wal Hikam hal. 172-173.

[10] Sebagaimana dalam “al Musnad” (3/112), at Tirmidziy (2140), Ibnu Maajah (3834), dan dishohihkan oleh al Imam al Albaaniy fi “as Sunnah” oleh Ibnu Abi `Aashim (225) dan lafazh : “يا ...صرف القلوب اصرف قلبي على طاعتك” disisi Muslim (6254), dengan sedikit perbedaan.

[11] Lihat : “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiir Kalaamil Mannaan”, As Syaikh As Sa`diy rahimahullahu Ta`ala.

[12] Tafsir “As Sa`diy” rahimahullahu Ta`ala.

[13] Tafsir “As Sa`diy” rahimahullahu Ta`ala.

[14] HR. Muslim (2878).

[15] “al Bidaayah wan Nihaayah”, (9/163).

[16] Lihat : “Jaami`ul `uluumu wal Hikam” ( hal. 173), “al Jawaabul Kaafiy” (hal.147).

[17] “Mukhtashor Minhaajul Qaashidiin” (hal. 393).

[18] “Shohih Muslim” (2654).

[19] “Shohih Muslim” (2654).

Sumber: http://tazhimussunnah.com/buletin/57-akhir-kehidup an-yang-jelek.html

Jawaban Anda
Bold Style  Italic Style  Underlined Style  Image Link  URL Link  Script AutoTab 
smile grin laugh
straight sad cry
frustrate angry mad
cool tongue wink
more smilies
Disable smilies

isikan kata kunci dari
gambar disamping»
» Nama 
Anda dapat mengirim pesan secara anonymously dengan mengisikan sembarang nama dalam kolom "Nama" (selama nama tersebut belum digunakan oleh Moderator), atau mengosongi kolom.
 

Powered by :: chat forum software miniBB™ © 2001-2010
 
Our Services